Beijing, Bharata Online - Produsen perangkat pintar asal Tiongkok, Honor, tengah menguji kemampuan robot humanoid berkinerja tinggi mereka, "Flash", demi meraih prestasi lebih lanjut di ajang World Humanoid Robot Games (Kompetisi Robot Humanoid Dunia) kedua yang akan datang. Robot pelari itu sebelumnya telah berhasil memenangkan lomba lari setengah maraton internasional di Beijing awal tahun ini.

Ajang yang dijadwalkan berlangsung pada 22 hingga 26 Agustus 2026 di Beijing ini akan menampilkan lebih dari 2.000 robot dari 666 tim yang mewakili 16 negara dan wilayah, dengan jumlah robot peserta meningkat empat kali lipat dibandingkan edisi perdana tahun lalu.

Acara itu telah menjadi panggung utama bagi kemajuan teknologi pergerakan robot berkaki dua (bipedal) dan kecerdasan buatan. Edisi tahun ini akan menghadirkan robot humanoid dari seluruh dunia yang berpartisipasi dalam lebih dari 30 jenis kompetisi, termasuk lari rintangan, lomba ketahanan, lompat jauh, angkat besi, tarik tambang, dan tenis meja.

Tiongkok mendominasi partisipasi dalam ajang ini, dengan lebih dari 150 perusahaan domestik serta 200 universitas dan lembaga penelitian yang mengirimkan peserta, termasuk beberapa perusahaan robotika terkemuka dan universitas bergengsi di negara tersebut.

Salah satunya adalah Shenzhen Honor Smart Technology Development, yang robot juara bertahan mereka, yang diberi nama tepat "Flash", akan kembali unjuk gigi memamerkan kecepatan dan kekuatannya dalam lomba lari jarak 100 meter, 400 meter, dan 1.500 meter di kompetisi tahun ini.

Robot itu telah menunjukkan performa yang mampu memecahkan rekor dan menarik perhatian dunia pada bulan April lalu saat berlari bersama peserta manusia dalam ajang Beijing E-Town Half-Marathon.

Berbekal sistem navigasi otonom, "Flash" menyelesaikan lomba lari sejauh 21 kilometer di ibu kota Tiongkok tersebut dalam waktu 50 menit 26 detik. Catatan waktu ini jauh melampaui rekor dunia manusia yang tercatat 57 menit 20 detik, sekaligus mengungguli robot pelari pesaing dari berbagai negara seperti Jerman, Prancis, dan Brasil.

Demi mempertahankan keunggulannya, tim Honor telah merancang ulang proporsi kaki robot tersebut, memperpanjang langkah larinya sekaligus menggunakan material ringan untuk menciptakan keseimbangan antara kecepatan tinggi dan daya tahan yang lebih baik.

"Kami telah menambah panjang kaki robot sebesar 10 sentimeter agar robot dapat melangkah lebih jauh dan bergerak lebih cepat. Kami memilih material baru yang menjamin bobot ringan sekaligus keandalan," ujar Gao Shiming, anggota tim yang memiliki spesialisasi dalam bidang persepsi terwujud (embodied perception) pada robotika.

Ajang balap dalam Robot Games mendatang menghadirkan tantangan teknis yang berat. Kecuali untuk nomor lari 100 meter dan lari gawang 400 meter, semua lomba lari mengharuskan robot menyelesaikan lintasannya secara otonom penuh tanpa kendali eksternal. Hal ini akan menguji secara langsung sistem penglihatan, algoritma pengambilan keputusan, dan stabilitas gerakan robot tersebut.

Sebagai bagian dari persiapan yang intensif, tim Honor telah membangun replika lintasan resmi 100 meter dengan ukuran sebenarnya di lokasi pengujian mereka. Hal ini memungkinkan "Flash" untuk berlatih dalam kondisi yang menyerupai situasi lomba sesungguhnya serta menyempurnakan performanya.

Untuk lomba lari cepat (sprint) jarak pendek, robot akan mengandalkan sistem pengenalan visual murni, dengan kamera yang dipasang pada bagian pinggul untuk memastikan robot tetap berada di dalam batas lintasan selama perlombaan. Sementara untuk lomba 400 meter, "Flash" akan dilengkapi dengan perangkat deteksi radar tambahan pada bagian kepalanya guna menjaga arah lintasan secara keseluruhan.

Zhou Yingjun, seorang eksekutif senior di Honor, meyakini bahwa Flash kini berada di ambang kemampuan untuk menyelesaikan lari 100 meter dalam waktu kurang dari 10 detik, yang akan menempatkannya setara dengan para atlet tercepat di dunia. Zhou mengatakan bahwa timnya berupaya keras agar robot tersebut dapat memecahkan rekor dunia manusia saat ini, yaitu 9,58 detik, yang dicetak oleh pelari cepat asal Jamaika, Usain Bolt, pada tahun 2009.

"Kami telah memasang alat pengukur waktu (stopwatch) di lokasi pengujian untuk memantau waktu reaksi robot saat memulai lari. Di saat yang sama, kami terus berupaya meningkatkan kecepatan maksimum robot kami. Tujuan kami adalah memecahkan rekor dunia manusia," ujarnya.