SHANGHAI, Bharata Online - Di aula kedatangan Terminal 2 Bandara Internasional Shanghai Pudong, kerumunan bergerak dengan tenang. Saat seorang pria paruh baya menyerahkan paspornya, matanya melirik ke arah lain sejenak.
Keraguan kecil itu tidak luput dari perhatian petugas inspeksi perbatasan yang sedang bertugas, yang menatapnya untuk kedua kalinya. Petugas membuka paspor dan membiarkan ujung jarinya menyentuh halaman data. Beberapa detik kemudian, dokumen palsu yang dibuat dengan rapi, tetapi pada akhirnya cacat itu teridentifikasi, dan pria itu ditolak masuk sesuai dengan aturan hukum.
Kemampuan untuk membedakan dokumen asli dari yang palsu hanya dengan sekali lihat, bukan hanya berasal dari pengalaman bertahun-tahun yang diasah, oleh petugas inspeksi perbatasan setempat, tetapi juga dari dukungan teknologi canggih.
Saat memasuki aula pusat pemeriksaan dokumen, pengunjung disambut oleh beberapa layar, yang menampilkan gambar dokumen identitas palsu dari berbagai waktu, dan diproduksi dengan berbagai metode. Halaman visa yang diubah, paspor palsu utuh, izin tinggal yang dimanipulasi... masing-masing menunjukkan niat jahat para pemalsu.
Ruang pusat tersebut dibagi menjadi beberapa zona fungsional, termasuk ruang audio-visual, laboratorium khusus, dan ruang penyimpanan. Di dalam ruang penyimpanan terdapat lebih dari 7.000 sampel dokumen, termasuk lebih dari 6.000 dokumen palsu, dan yang telah diubah.
Wei Tuni, direktur pusat tersebut, kepada Global Times mengatakan, di antaranya, terdapat dokumen palsu yang halaman datanya terbuat dari bahan polimer polikarbonat. Dokumen ini disita 10 tahun lalu, dan bahan seperti ini masih langka di Tiongkok pada saat itu.
Pada tahun 2024, pusat tersebut memperoleh akreditasi laboratorium dari Layanan Akreditasi Nasional Tiongkok, untuk Penilaian Kesesuaian, dan laporan penilaian yang dikeluarkannya, memiliki kekuatan hukum yang sama di 119 negara di seluruh dunia. Artinya, paspor palsu yang teridentifikasi di Shanghai, dapat menjadi bukti kuat di pengadilan, bahkan ribuan mil jauhnya. (Sumber : Global Times)