Beijing, Bharata Online - Menurut Sean Stein, Presiden U.S.-China Business Council, perusahaan-perusahaan Amerika tidak lagi memandang Tiongkok sekadar sebagai pasar yang luas, melainkan sebagai tempat untuk membangun kemitraan bermakna yang krusial bagi strategi daya saing global mereka.
Stein, mantan diplomat AS yang memiliki pengalaman puluhan tahun dalam memperjuangkan kepentingan perusahaan Amerika di Tiongkok, telah menyaksikan transformasi dinamis dalam cara perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi dan memandang kerja sama dengan perusahaan lokal.
Dalam wawancara eksklusif dengan CGTN, Stein mengatakan bahwa usaha patungan (joint venture), yang dulunya merupakan syarat bagi perusahaan asing untuk beroperasi di industri tertentu, kini semakin banyak dibentuk secara sukarela.
"Saat saya pertama kali datang ke Tiongkok 25 tahun lalu, saya tidak ingat ada perusahaan Amerika yang berkata, 'Anda tahu, saya sangat menyukai mitra usaha patungan saya. Saya sangat senang memiliki mitra usaha patungan'. Hal seperti itu jarang terdengar karena mitra dari Tiongkok tidak memberikan banyak nilai tambah. Kini, kita melihat perusahaan Amerika datang ke Tiongkok, dan mereka sebenarnya bisa beroperasi sendiri atau sebagai perusahaan yang sepenuhnya dimiliki asing (WFOE), namun mereka berpikir, 'Mengapa harus begitu? Kami melihat kekuatan besar pada perusahaan-perusahaan Tiongkok. Kami menginginkan mitra yang tepat, baik itu mitra usaha patungan maupun mitra strategis'," ujar Stein.
"Dulu kita sering mengatakan bahwa perusahaan datang ke Tiongkok demi pasar Tiongkok. Sekarang saya sering meluruskan pandangan itu. Memang benar mereka datang demi pasar, tetapi bukan itu hal yang paling penting saat ini di tahun 2026. Mereka hadir karena, seperti yang terlihat dalam survei terbaru kami, Tiongkok merupakan bagian penting dari daya saing global mereka," katanya.
Presiden dewan bisnis tersebut menegaskan bahwa kemitraan-kemitraan itu kini sangat diperlukan untuk meraih keunggulan di pasar global.
"Anda tidak bisa melihat berbagai perkembangan yang terjadi di sini lalu berkata, 'Kita tidak akan ikut serta di dalamnya', namun tetap berharap bisa bersaing secara global. Jadi, tren nyata yang kita amati, dan yang menjadi topik pembicaraan di kalangan perusahaan, dewan direksi, maupun para CEO, termasuk saat mereka saling berdiskusi, adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan apa yang sedang terjadi di Tiongkok, belajar darinya, menjalin kemitraan, serta menggunakannya untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing global kita. Oleh karena itu, menurut saya, saat ini kita melihat jauh lebih banyak kerja sama antara perusahaan Amerika dan Tiongkok, atau antara perusahaan Eropa dan Tiongkok, dibandingkan dengan situasi satu atau dua dekade yang lalu," jelasnya.