BEIJING, Bharata Online - Kota-kota di Tiongkok dikenal bersih, aman, dan tertib. Di balik layar, AI sudah membantu membuat kota-kota tersebut berfungsi lebih baik, satu keluhan, satu jalan, satu lampu pada satu waktu.
Di Distrik Jiading, Shanghai, sebuah sistem AI mendeteksi pembuangan sampah sembarangan, parkir ilegal, dan bahaya di jalan dalam waktu satu menit, kemudian memberi peringatan kepada petugas yang tepat tanpa campur tangan manusia.
Di Tianjin, sebuah "pekerja sosial" berbasis AI menangani pertanyaan dan keluhan warga sepanjang waktu. "Lampu lorong rusak" dulunya adalah keluhan umum. Sekarang, itu menjadi tiket yang diajukan dan diselesaikan.
Inilah yang disebut oleh para eksekutif iFLYTEK, Lou Chao dan Wang Wei, sebagai "mil terakhir," yaitu titik di mana AI berhenti menjadi sebuah konsep dan mulai melakukan pekerjaan nyata, sepanjang hari, setiap hari.
Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Tata kelola data, kepatuhan lintas batas, perlindungan privasi, dan penetapan aturan sama pentingnya.
Ketika AI mampu mendeteksi klausul tersembunyi atau tender korup dalam waktu 15 menit, pertanyaannya bukan lagi apa yang dapat dilakukannya, tetapi siapa yang mengendalikannya, siapa yang mempercayainya, dan siapa yang meminta pertanggungjawabannya.
Dua wakil presiden iFLYTEK menguraikan bagaimana AI beralih dari laboratorium ke kota-kota, dan mengapa tata kelola, bukan algoritma, adalah bagian tersulit. Saksikan wawancara lengkapnya. {CGTN]