Hefei, Bharata Online - Misi pengambilan sampel Mars Tianwen-3 milik Tiongkok mendatang akan menjadikan pencarian jejak kehidupan di Mars sebagai tujuan ilmiah utamanya, demikian disampaikan oleh kepala ilmuwannya pada hari Kamis (3/9). Ini merupakan sebuah upaya yang tidak hanya dapat menjawab apakah umat manusia sendirian di alam semesta, tetapi juga mengungkap petunjuk penting mengenai nasib jangka panjang Bumi itu sendiri.

Misi yang dijadwalkan meluncur sekitar tahun 2028 itu merupakan prioritas ilmiah yang telah diperhitungkan secara cermat. Mars dianggap sebagai planet yang paling mirip Bumi di tata surya, dan semakin banyak bukti menunjukkan bahwa Mars pada masa awal keberadaannya pernah memiliki air cair, atmosfer yang lebih padat, serta medan magnet global, faktor-faktor yang diyakini secara luas telah menciptakan lingkungan layak huni miliaran tahun yang lalu.

"Tujuan ilmiah utama Tianwen-3 adalah mencari tanda-tanda kehidupan. Oleh karena itu, kita harus mendarat di area yang ditargetkan secara sangat presisi, yang—baik secara teori maupun menurut catatan yang ada—paling mungkin menyimpan kehidupan," ujar Hou Zengqian, Akademisi dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences).

Hou menyampaikan hal tersebut di sela-sela Konferensi Eksplorasi Ruang Angkasa Dalam Internasional 2026, yang dibuka pada hari Kamis (3/9) di Kota Hefei, Provinsi Anhui, Tiongkok Timur.

"Ada keyakinan luas bahwa jika terdapat kehidupan di luar Bumi, Mars adalah tempat yang paling mungkin untuk menemukannya. Mengapa? Karena Mars di masa lampau sangat mirip dengan Bumi: memiliki air, atmosfer, dan medan magnet. Lingkungan tersebut layak huni, dan kondisi semacam itu bisa saja memunculkan kehidupan. Banyak pihak menaruh perhatian besar pada kemungkinan adanya kehidupan di luar planet kita, dan Mars adalah planet terpenting yang mungkin dapat memberikan jawaban ilmiah atas hal tersebut," ujarnya.

Hou menekankan bahwa penemuan bukti definitif mengenai biosignature (tanda-tanda biologis) akan memiliki implikasi mendalam bagi salah satu pertanyaan tertua umat manusia: Apakah kehidupan pernah muncul di luar planet asal kita? Namun, ia juga mencatat bahwa nilai ilmiah misi ini jauh melampaui sekadar astrobiologi.

Akademisi tersebut menjelaskan bahwa Bumi, Mars, dan Venus bermula sebagai "tiga saudara" sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu, namun kemudian menempuh jalur evolusi yang sangat berbeda. Memahami mengapa Mars, yang dulunya begitu mirip dengan Bumi, mengalami penuaan planet yang begitu cepat dapat memberikan wawasan tak ternilai mengenai mekanisme yang menentukan kelayakan huni suatu planet.

"Mengapa Mars menua begitu cepat? Mengapa dunia yang dulunya layak huni berubah menjadi begitu tidak ramah bagi kehidupan? Apa faktor penentu di balik kelayakan huni sebuah planet? Misteri-misteri ini belum terpecahkan. Eksplorasi Mars dapat membantu kita mengungkap mekanisme mendasar yang mengatur kelayakan huni serta memungkinkan kita untuk lebih memahami Bumi dan memprediksi masa depannya," ujarnya.

Menurut Badan Antariksa Nasional Tiongkok (China National Space Administration/CNSA), wahana antariksa Tianwen-3 akan terdiri dari lima komponen: wahana pendarat (lander), wahana peluncur naik (ascender), kapsul layanan, wahana pengorbit (orbiter), dan modul masuk kembali (re-entry module). Wahana ini dijadwalkan meluncur sekitar tahun 2028 menggunakan dua roket pembawa kelas berat Long March-5 dari Pusat Peluncuran Antariksa Wenchang di Hainan, provinsi kepulauan paling selatan Tiongkok.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, misi ini akan mengumpulkan sampel dari permukaan Mars dan kemudian mengirimkannya kembali ke Bumi sekitar tahun 2031, menjadikannya misi pertama yang membawa material dari Planet Merah kembali ke Bumi.