Beijing, Bharata Online - Menurut kepala prakirawan dari Pusat Meteorologi Nasional Tiongkok, hujan lebat yang terus berlanjut dalam beberapa hari mendatang akan mengancam operasi penyelamatan dan meningkatkan risiko bencana susulan di Pelabuhan Gyirong, yang terletak di perbatasan Tiongkok-Nepal, setelah terjadinya bencana tanah longsor yang dahsyat.

Menurut pihak berwenang setempat, bencana tanah longsor mematikan tersebut, yang dipicu oleh longsoran es dan batu di Nepal, menghantam pelabuhan perbatasan Gyirong di Daerah Otonom Tibet, Tiongkok Barat Daya, menewaskan 16 orang dan menyebabkan 546 orang lainnya hilang.

"Wilayah dari Pelabuhan Gyirong hingga Kota Gyirong telah mengalami hujan lebat selama beberapa hari terakhir, dengan curah hujan yang terutama terjadi pada malam hari. Dari malam tanggal 30 Agustus hingga pagi hari tanggal 31 Agustus, Pelabuhan Gyirong mencatat curah hujan sekitar 20 milimeter. Ke depannya, mulai 31 Agustus hingga 2 September, daerah aliran sungai Gyirong Zangbo dan Dongling Zangbo, serta area di dekat pelabuhan, akan terus mengalami curah hujan yang signifikan, dengan intensitas hujan yang kadang-kadang berkisar antara sedang hingga lebat. Di sepanjang jalur transportasi dari Xigaza menuju Kabupaten Gyirong dan kemudian ke Pelabuhan Gyirong, hujan akan membuat jalan menjadi licin, sehingga sangat memengaruhi lalu lintas dan operasi penyelamatan," ujar Ma Xuekuan, Kepala Prakirawan di Pusat Meteorologi Nasional.

Peringatan itu disampaikan saat tim penyelamat berupaya membuka kembali jalan raya nasional G216 yang rusak, jalan raya utama menuju Pelabuhan Gyirong.

Hingga Senin (31/8) siang, sekitar 533 meter jalan telah diperbaiki, dengan sisa sekitar 1,15 kilometer yang masih harus dibuka kembali menuju pelabuhan, demikian disampaikan oleh tim penyelamat dari China Anneng Group.

Ma memperingatkan bahwa curah hujan yang terus-menerus ini harus dipantau dengan cermat karena dapat menyebabkan kenaikan permukaan air dan risiko banjir lebih lanjut.

"Keselamatan lalu lintas menjadi perhatian utama. Selain itu, curah hujan yang signifikan di wilayah aliran sungai Gyirong Zangbo dan Dongling Zangbo mengharuskan pemantauan ketat terhadap aliran air dari hulu dan pertemuan aliran sungai, yang dapat menyebabkan kenaikan permukaan air. Pada saat yang sama, risiko meteorologis terkait bencana geologis di sekitar Pelabuhan Gyirong dan jalur transportasi tetap tinggi. Oleh karena itu, kita harus mencermati dampak buruk dari kenaikan permukaan air dan bahaya geologis terhadap upaya penyelamatan," kata Ma.

"Selain itu, mengingat curah hujan yang cukup tinggi pada malam hari dan suhu udara yang rendah, petugas penyelamat harus menjaga tubuh tetap hangat dan kering, sementara pasokan bantuan maupun alat berat harus menghindari daerah dataran rendah selama malam hari," tambahnya.