Kairo, Bharata Online - Menurut Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, kunjungan kenegaraan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, ke Mesir yang baru saja berakhir telah sepenuhnya menunjukkan sifat strategis, terdepan, dan patut dicontoh dari hubungan Tiongkok-Mesir, serta menandai tonggak sejarah dalam pengembangan hubungan bilateral kedua negara.

Xi tiba di Kairo pada Selasa (1/9) malam untuk melakukan kunjungan kenegaraan selama dua hari di Mesir atas undangan Presiden Mesir, Abdel Fattah El-Sisi.

Kunjungan ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama Xi ke negara Afrika Utara tersebut dalam satu dekade terakhir, dan bertepatan dengan peringatan 70 tahun pembentukan hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Mesir.

Sisi dan istrinya, Entissar Amer, menyambut Xi dan istrinya, Peng Liyuan, di Bandara Internasional Kairo.

Xi menyampaikan pidato tertulis yang berisi salam hangat dan harapan terbaik bagi pemerintah serta rakyat Mesir, mewakili pemerintah dan rakyat Tiongkok.

Pada hari Rabu (2/9), Xi menghadiri upacara penyambutan yang diadakan oleh Sisi di Istana Al-Ittihadiya, Kairo.

Sebuah korps musik militer memainkan lagu penyambutan dan dentuman penghormatan 21 meriam dikumandangkan saat iring-iringan kendaraan Xi tiba di area istana.

Sisi dan istrinya menyambut hangat Xi dan Peng, sebelum kedua kepala negara menuju mimbar kehormatan tempat lagu kebangsaan kedua negara diperdengarkan.

Setelah memasuki istana, Xi, Sisi, dan pasangan mereka berfoto bersama dengan latar belakang bendera nasional Tiongkok dan Mesir.

Kedua kepala negara kemudian mengadakan pembicaraan. Dalam kesempatan itu, Xi menyerukan upaya bersama Tiongkok dan Mesir untuk saling mendukung, memperdalam kerja sama, serta terus memajukan pembangunan komunitas Tiongkok-Mesir dengan masa depan bersama di tengah situasi internasional dan regional yang penuh gejolak.

Xi mengatakan bahwa para pemimpin generasi terdahulu dari kedua negara telah memimpin rakyat mereka berjuang bahu-membahu demi kemerdekaan nasional serta melawan imperialisme dan kolonialisme, sehingga menjalin ikatan persahabatan yang tak terpatahkan.

Selama tujuh dekade terakhir, hubungan Tiongkok-Mesir telah berhasil melewati berbagai tantangan dan mengembangkan karakteristik khas yang mencakup kesetaraan dan saling percaya, persahabatan dan saling belajar, solidaritas dan saling mendukung, serta kerja sama yang saling menguntungkan (win-win), ujarnya.

Xi menyatakan bahwa kemitraan strategis yang komprehensif Tiongkok-Mesir telah mencapai kemajuan pesat dalam beberapa tahun terakhir di bawah arahan kepala negara kedua belah pihak. Kedua belah pihak memiliki pandangan serupa dan strategi yang selaras dalam upaya pembangunan dan revitalisasi, peningkatan kesejahteraan rakyat, serta penegakan keadilan dan kejujuran internasional, tambahnya.

Xi menekankan bahwa Tiongkok dan Mesir harus saling mendukung dengan teguh, mempertahankan momentum pertukaran tingkat tinggi, meningkatkan pertukaran dan kerja sama di segala bidang dan tingkatan, serta memperkuat pertukaran dan pembelajaran bersama mengenai pengalaman tata kelola pemerintahan.

Xi menyatakan bahwa kedua belah pihak harus mendorong kerja sama yang saling menguntungkan, menyelaraskan strategi pembangunan dengan lebih baik, menggali potensi kerja sama di bidang-bidang tradisional seperti pembangunan infrastruktur, ketenagalistrikan, pertanian, dan teknologi komunikasi, serta mengembangkan titik-titik kerja sama baru di bidang energi hijau, kendaraan listrik, kedirgantaraan, ekonomi digital, dan teknologi pertanian modern.

Kedua belah pihak harus mendorong pertukaran antarwarga, memperluas pertukaran dan kerja sama secara menyeluruh di bidang budaya, pendidikan, sains dan teknologi, kesehatan, olahraga, dan bidang lainnya, serta memfasilitasi pertukaran personel dan mempererat ikatan antarwarga, ujar Xi.

Kedua belah pihak harus memperkuat kerja sama keamanan, bersama-sama memerangi kejahatan lintas negara, memperdalam kerja sama internasional dalam pemberantasan korupsi, saling mendukung upaya antiterorisme, dan menjaga keamanan bersama, kata Xi.

Kedua belah pihak harus memperkuat kolaborasi multilateral, lebih meningkatkan koordinasi dan kerja sama di platform multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan BRICS, bersama-sama mendorong pengembangan Forum Kerja Sama Tiongkok-Negara Arab dan Forum Kerja Sama Tiongkok-Afrika, bersama-sama menentang unilateralisme dan tindakan intimidasi, serta mendorong sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara, ujar Xi.

Kedua pemimpin juga melakukan pertukaran pandangan secara mendalam mengenai situasi di Timur Tengah.

Pemimpin Tiongkok tersebut mengajukan usulan empat poin mengenai pembangunan arsitektur keamanan baru di Timur Tengah dengan menjunjung visi keamanan bersama, komprehensif, kooperatif, dan berkelanjutan.

Xi mengatakan bahwa Tiongkok mendukung negara-negara di kawasan tersebut dalam membangun hubungan bertetangga yang baik dan bersahabat, seraya menambahkan bahwa upaya harus dilakukan untuk menumbuhkan daya dorong internal bagi keamanan bersama di kawasan tersebut.

Masyarakat Timur Tengah harus tetap menjadi penentu nasib mereka sendiri dan campur tangan pihak luar harus ditolak, kata Xi, seraya mencatat bahwa Tiongkok mendukung negara-negara kawasan dalam memperkuat dialog mengenai perdamaian dan keamanan, menjajaki pembangunan arsitektur keamanan baru bagi Timur Tengah, serta menentukan masa depan mereka sendiri.

Xi menyatakan bahwa pendekatan komprehensif harus diterapkan untuk memajukan keamanan bersama di kawasan tersebut, dan mengingat banyaknya titik konflik di Timur Tengah serta keterkaitan erat di antaranya, solusi menyeluruh perlu diupayakan.

Isu Palestina tetap menjadi inti dari persoalan Timur Tengah dan tidak boleh diabaikan atau dipinggirkan, tambahnya.

Fondasi bagi keamanan bersama harus diperkuat melalui pembangunan, ujar Xi, seraya mencatat bahwa perdamaian dan stabilitas jangka panjang di Timur Tengah pada dasarnya bergantung pada pembangunan.

Tiongkok siap bekerja sama dengan negara-negara Timur Tengah untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, memajukan kerja sama pembangunan, mendorong penyelarasan kepentingan negara-negara kawasan, secara bertahap meningkatkan rasa saling percaya, serta menghilangkan akar penyebab konflik, katanya.

Xi mengatakan bahwa koordinasi internasional demi keamanan bersama di kawasan tersebut perlu diperkuat, dan Piagam PBB serta hukum internasional lainnya harus menjadi prinsip dasar dalam menangani urusan Timur Tengah.

Masyarakat internasional, khususnya kekuatan-kekuatan luar, harus meninggalkan penerapan standar ganda di Timur Tengah, menghormati kedaulatan dan integritas wilayah negara-negara kawasan, serta menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, tambah Xi.

Ia juga menyerukan dukungan bagi peran efektif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam urusan Timur Tengah.

Usai pembicaraan tersebut, kedua kepala negara bersama-sama menyaksikan penandatanganan sejumlah dokumen kerja sama yang mencakup kerja sama Belt and Road, kecerdasan buatan, ekonomi dan perdagangan, kerja sama industri dan rantai pasok, serta bidang-bidang lainnya.

Kedua belah pihak mengeluarkan pernyataan bersama mengenai upaya lebih lanjut untuk memperdalam kemitraan strategis komprehensif mereka.

Sisi dan istrinya menggelar jamuan penyambutan bagi Xi dan istrinya, Peng Liyuan, pada Rabu (2/9) siang.

Seraya mencatat bahwa Tiongkok dan Mesir sama-sama merupakan peradaban kuno dan negara yang kaya akan situs Warisan Dunia, Xi mengatakan bahwa melintasi ruang dan waktu, kedua peradaban telah saling menjalin hubungan, serta menorehkan babak baru dalam persahabatan abadi antara kedua bangsa.

Xi menyerukan upaya dari kedua belah pihak untuk menjunjung tinggi visi peradaban yang didasarkan pada kesetaraan, saling belajar, dialog, dan inklusivitas, serta mengimplementasikan Inisiatif Peradaban Global.

Ia juga mendorong upaya kedua belah pihak untuk memajukan koeksistensi inklusif dan saling belajar antarperadaban yang berbeda, serta menghimpun kekuatan lebih besar dari berbagai peradaban demi memajukan pembangunan komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.

Xi mengakhiri kunjungan kenegaraan tersebut dan bertolak meninggalkan Kairo pada hari Rabu (2/9). Sisi dan istrinya melepas keberangkatan Xi dan Peng di bandara.

Saat memberikan keterangan kepada wartawan mengenai lawatan Xi, Wang Yi menyatakan bahwa kunjungan bersejarah ke Mesir tersebut bukan sekadar perjalanan untuk mempererat persahabatan, melainkan juga untuk memperluas kerja sama. Ia juga menambahkan bahwa kunjungan itu telah menyusun cetak biru baru bagi kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua negara.

Kunjungan kenegaraan ini dilakukan setelah lawatan Xi ke Kirgistan untuk menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) tahun 2026 di ibu kota Kirgistan, Bishkek, serta kunjungan kenegaraan ke negara Asia Tengah tersebut.