Mesir, Bharata Online - Zona Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan TEDA Suez Tiongkok-Mesir, sebuah proyek bersama unggulan dalam kerangka Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative), telah muncul sebagai platform utama bagi kerja sama industri antara kedua belah pihak. Zona ini memainkan peran kunci dalam membantu Mesir memajukan peningkatan industri serta memperluas kapasitas perdagangan globalnya.

Hubungan kedua negara menjadi sorotan saat Presiden Tiongkok, Xi Jinping, tiba di Kairo untuk memulai kunjungan kenegaraan pada hari Selasa (1/9). kunjungan ini menandai perjalanan pertamanya ke Mesir dalam satu dekade terakhir dan bertepatan dengan peringatan 70 tahun pembentukan hubungan diplomatik bilateral.

Salah satu kisah sukses dalam sejarah panjang kerja sama mereka adalah Zona Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan Suez. Terletak di Kegubernuran Suez, Mesir, zona ini didirikan oleh Tianjin Economic-Technological Development Area (TEDA) pada tahun 2008. Sejak saat itu, zona tersebut telah menarik lebih dari 200 perusahaan, menciptakan lebih dari 10.000 lapangan kerja langsung, serta mendukung terciptanya puluhan ribu peluang kerja tambahan.

Selama bertahun-tahun, zona itu telah menjadi proyek percontohan utama yang menghubungkan Prakarsa Sabuk dan Jalan yang digagas Tiongkok dengan strategi Zona Ekonomi Koridor Terusan Suez milik Mesir, serta visi yang lebih luas yaitu "Egypt Vision 2030". Zona ini berfungsi sebagai platform nyata bagi kerja sama industri bilateral dan dialog ekonomi antara kedua negara.

Zhang Yixiang, Direktur Promosi Investasi China-Africa TEDA Investment Company, memaparkan lanskap industri yang telah terbentuk di dalam zona tersebut selama dua dekade terakhir.

"Sebanyak 205 perusahaan telah beroperasi di zona ini, membentuk pola pengembangan berupa kelompok industri yang terkonsolidasi dan rantai industri yang lengkap. Awalnya, zona ini direncanakan dengan delapan industri pilar. Area tahap awal berfokus pada empat sektor: bahan bangunan baru, peralatan listrik tegangan tinggi dan rendah, manufaktur mesin, serta peralatan perminyakan; sementara area perluasan mencakup sektor tekstil, bahan kimia, energi baru, dan peralatan rumah tangga," ujarnya.

Hingga akhir tahun lalu, zona itu telah mencatatkan realisasi investasi lebih dari 3,8 miliar dolar AS (sekitar 67,2 triliun rupiah) sekaligus menarik berbagai perusahaan kelas dunia yang turut membantu mengisi kesenjangan teknologi dalam industri terkait di Mesir. Produk-produk yang dihasilkan di zona ini dipasarkan ke seluruh dunia, sehingga secara signifikan meningkatkan perolehan devisa Mesir dari sektor ekspor.

Ahmed Radwan, Direktur Eksekutif Egypt-TEDA Group, mencatat bahwa kawasan tersebut tidak hanya meningkatkan keunggulan koridor ekonomi jalur air Terusan Suez, tetapi juga mendorong pembangunan industri yang selaras dengan tujuan strategi Visi Mesir 2030, termasuk memajukan industrialisasi lokal.

"Tiongkok menyediakan platform industri berstandar tinggi, namun nilai dari platform ini bersifat terbuka. Terbuka bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok untuk mendapatkan akses pintu gerbang menuju Afrika serta pasar Timur Tengah dan Eropa. Pada saat yang sama, hal ini memberikan manfaat bagi perusahaan-perusahaan Mesir serta bagi Mesir sendiri dalam hal penciptaan lapangan kerja, perolehan pendapatan, peningkatan taraf industri, dan perwujudan industrialisasi (modern)," ujarnya.

"Selain itu, negara-negara lain beserta perusahaan-perusahaannya dapat memperoleh akses ke rantai pasok yang lokasinya dekat dengan Terusan (Suez) serta akses ke pasar. Kemitraan sejati adalah tentang saling memahami tujuan pembangunan, berbagi manfaat, dan tetap memegang teguh komitmen bahkan di masa-masa sulit. Hal ini dapat kita temukan dalam kerja sama antara Tiongkok dan Mesir," tambah Radwan.

Kawasan ekonomi ini merupakan salah satu dari berbagai hasil nyata kerja sama Tiongkok-Mesir. Contoh lain dari kemitraan yang kuat ini mencakup pembangunan Ibu Kota Administratif Baru Mesir di luar Kairo, pengembangan sistem Lintas Rel Terpadu (LRT) di Kota Ramadan, proyek bersama di bidang energi bersih dan bahkan kedirgantaraan, serta kerja sama budaya yang berkelanjutan, seperti di bidang arkeologi, antara kedua peradaban kuno tersebut.