Beijing, Bharata Online - Lonjakan pendapatan box office di Tiongkok terus berlanjut seiring antusiasme penonton menyaksikan deretan film musim panas berskala besar. Salah satu yang mencuri perhatian adalah film antiperang yang mendapat banyak pujian, "Once Upon a Time in the Middle East". Film ini sukses besar di kalangan penonton dan berhasil melampaui angka pendapatan 1 miliar yuan (sekitar 2,65 triliun rupiah) hanya dalam waktu satu minggu setelah penayangan perdananya.

Saat ini, Tiongkok tengah menjalani musim box office musim panas yang berlangsung resmi dari 1 Juni hingga 31 Agustus 2026, periode yang dianggap sebagai salah satu masa paling menguntungkan bagi industri perfilman sepanjang tahun.

Di tengah antusiasme penonton yang tinggi ini, pendapatan harian box office telah melampaui 100 juta yuan (sekitar 265 miliar rupiah) selama 38 hari berturut-turut, dengan total pendapatan musim panas kini telah menembus angka 10,2 miliar yuan (lebih dari 27 triliun rupiah).

Berdasarkan data dari platform penjualan tiket daring, pencapaian ini membuat total pendapatan box office tahunan Tiongkok untuk tahun 2026, termasuk hasil penjualan tiket awal (pre-sales), kini telah melampaui 26 miliar yuan (sekitar 68,9 triliun rupiah).

Lonjakan jumlah penonton di bioskop belakangan ini didorong oleh peluncuran film drama produksi dalam negeri berjudul "Once Upon a Time in the Middle East", yang mulai ditayangkan secara nasional pada 11 Agustus 2026.

Film yang mengisahkan seorang juru masak biasa di restoran Tiongkok di Irak, negara yang tengah dilanda perang pada tahun 2003, ini menuai respons positif berkat sudut pandangnya mengenai perang serta penggambaran kehidupan di Timur Tengah yang begitu hidup.

Setelah meraup pendapatan kotor lebih dari satu miliar yuan hanya dalam delapan hari penayangan, film itu kini menempati peringkat keempat dalam daftar box office musim panas 2026. Selain itu, film tersebut juga meraih skor tinggi mencapai 9,9 poin di berbagai platform penjualan tiket daring Tiongkok, menjadikannya film domestik dengan peringkat tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Alih-alih mengandalkan adegan pertempuran kolosal, alur cerita film ini hampir seluruhnya berlatar di sebuah restoran Tiongkok kecil, sehingga menciptakan nuansa yang intim; penggambaran kulinernya pun turut menggugah selera penonton. Film ini mengusung sudut pandang sederhana dari seorang juru masak bernama Xu Fu, serta menggambarkan perjuangan dan penderitaan orang-orang biasa yang terjebak di tengah konflik, sembari mengeksplorasi tema-tema seputar upaya bertahan hidup, rasa welas asih, dan nilai perdamaian.

Kesuksesan film ini menyoroti standar yang kian meningkat dalam industri perfilman Tiongkok yang berkembang pesat. Lokasi syuting dibangun di China Movie Metropolis di Provinsi Shandong, wilayah timur Tiongkok, salah satu pusat utama produksi film berskala industri di negara tersebut, dengan satu blok jalan dibangun menyerupai suasana komersial yang ramai di pusat kota sebagaimana digambarkan dalam film itu.