Beijing, Bharata Online - Dengan mendobrak konvensi narasi kepahlawanan Barat yang sudah lama mapan dalam pembuatan film, film anti-perang Tiongkok yang sedang populer, "Once Upon a Time in the Middle East", kini mengubah wacana sinematik global mengenai perang dan perdamaian.

Film blockbuster musim panas ini dirilis secara nasional pada hari Selasa (11/8) dan telah mencatatkan pendapatan box office lebih dari 536 juta yuan (sekitar 1,4 triliun rupiah) hingga hari Jumat (14/8) pukul 22.00.

Kisahnya berpusat pada Xu Fu, seorang juru masak Tiongkok yang sedang mengalami nasib sial—diperankan oleh komedian ternama Shen Teng—yang pergi ke Timur Tengah untuk melunasi utang-utangnya. Di sana, ia bekerja sama dengan seorang manajer restoran setempat untuk mengelola sebuah restoran yang ramai, sembari membawa tradisi kuliner Tiongkok yang autentik ke negeri asing yang dilanda perang.

Sebagai film antiperang khas Tiongkok, "Once Upon a Time in the Middle East" meninggalkan gaya penceritaan kepahlawanan Barat yang sudah usang. Film ini mengadopsi sudut pandang sederhana dari Xu Fu, seorang juru masak biasa. Melalui sudut pandangnya sebagai pengamat netral, film ini menggambarkan pergulatan dan penderitaan orang-orang biasa yang terjebak dalam konflik, serta menggunakan elemen makanan dan kehidupan sehari-hari untuk mengeksplorasi tema kelangsungan hidup, welas asih, dan nilai perdamaian, alih-alih berfokus pada medan pertempuran.

Perspektif naratif semacam itu tergolong inovatif di antara produksi film anti-perang global.

"Film ini mencerminkan kekacauan akibat perang secara realistis. Oleh karena itu, kita mendambakan perdamaian dan menentang penderitaan yang ditimbulkan oleh perang agresi terhadap masyarakat," ujar seorang penonton.

Sementara itu, film blockbuster ini telah memicu antusiasme besar di luar negeri bahkan sebelum penayangan perdananya secara internasional. Banyak penggemar film global sepakat bahwa karya ini melambangkan perubahan transformatif dalam industri film Tiongkok, yang kini merombak paradigma naratif mapan ala Hollywood serta menafsirkan ulang narasi global tentang perang dan perdamaian ke tingkat yang lebih tinggi.

"Bayangkan saja bagaimana kisah ini akan bergulir jika diangkat ke layar lebar oleh Hollywood. Hampir pasti ceritanya akan mengikuti formula standar: pahlawan super, prajurit super, atau agen elite yang datang tiba-tiba, menyelesaikan krisis dalam sekejap, lalu menghilang. Lantas, apa yang ditawarkan oleh 'Once Upon a Time in the Middle East'? Sebuah gagasan bahwa momen-momen terbaik adalah saat kita menikmati hidangan bersama. Sebaliknya, apa yang mendorong orang untuk berperang alih-alih bersantap bersama? Siapa pun yang telah menonton film ini pasti tahu jawabannya. Itulah sebabnya sebagian warganet berpendapat bahwa jika film ini bersaing memperebutkan penghargaan Oscar di AS, ia akan menjadi suara yang mewakili Dunia Selatan (Global South)," ujar Zuo Heng, Peneliti di Arsip Film Tiongkok.

Banyak pakar juga berpandangan bahwa narasi perang di layar internasional selama ini berkutat pada perebutan kemenangan dan penaklukan militer, namun "Once Upon a Time in the Middle East" tidak memicu kebencian ataupun mengagungkan kemenangan yang diraih melalui kekerasan. Sebaliknya, film ini menyiratkan kunci perdamaian di tengah rutinitas bersantap sehari-hari yang sederhana.

Visi perdamaian ini—yang berakar pada sikap moderat dan inklusif peradaban Tiongkok—membuka jalan baru bagi ekspresi film-film bertema antiperang di tingkat global.

Hal ini merupakan sebuah inovasi dalam penciptaan film yang memungkinkan dunia melihat persepsi perdamaian yang berbeda dari sudut pandang Barat.

"Film ini menyuguhkan perspektif antiperang yang berbeda dari paradigma Hollywood. Film ini meninggalkan semangat individualisme ala Hollywood dan secara halus menantang pola pikir 'America First' (mengutamakan Amerika). 'Once Upon a Time in the Middle East' terus mengeksplorasi pendekatan inovatif untuk membentuk wacana dan sistem narasi Tiongkok kontemporer," kata Sun Jiashan, Peneliti di Departemen Pendidikan dan Penelitian Budaya Tiongkok di bawah naungan Institut Pusat Sosialisme.