BEIJING, Bharata Online - Inilah dunia di mana kematian bukanlah akhir, melainkan kelanjutan. Ini adalah tempat di mana benda-benda kehidupan sehari-hari mengikuti pemiliknya ke keabadian. Ini adalah alam di mana bejana pernis masih menyimpan jejak makanan, sutra masih mengingat tubuh yang memakainya, dan asap naik sebagai jembatan antara dunia ini dan dunia di atas.

Ini adalah dunia Heavenly Han , sebuah pameran virtual imersif yang memperkenalkan kerajinan dari Dinasti Han Tiongkok (206 SM-220 M) melalui sudut pandang Lady Dai, atau Xin Zhui, seorang wanita bangsawan yang kehidupan dan bahkan "kehidupan setelah kematiannya" diabadikan dengan detail yang luar biasa.

Kerajinan Tiongkok | Han Surgawi: Kehidupan, kematian, dan seni keabadian

 

Penemuan makam Mawangdui, tempat Lady Dai dimakamkan lebih dari dua milenium yang lalu, dan bejana-bejana yang ditemukan menunjukkan bagaimana Dinasti Han memadukan gagasan mereka tentang alam spiritual dengan kehidupan sehari-hari melalui seni.

Makamnya, salah satu penemuan arkeologi paling luar biasa di dunia, berisi ribuan artefak dan jasad yang terpelihara dengan sangat baik, menawarkan gambaran langka dan mendalam tentang kehidupan Dinasti Han.

Kerajinan Tiongkok | Han Surgawi: Kehidupan, kematian, dan seni keabadian

Dari perangkat makan yang dipernis dan pakaian sutra hingga kotak kosmetik dan tempat pembakar dupa, setiap objek tidak hanya mencerminkan kecanggihan material tetapi juga pandangan dunia yang dibentuk oleh kesinambungan antara hidup dan mati.

Kerajinan Tiongkok | Han Surgawi: Kehidupan, kematian, dan seni keabadian

Artefak-artefak tersebut juga menceritakan kisah tentang etiket dan keramahan Dinasti Han. Piring dan cangkir yang dipernis memiliki tulisan seperti "silakan nikmati makanannya" dan "silakan nikmati anggurnya," bahkan beberapa piring menampilkan motif kucing pelindung sebagai sosok yang mengawasi saat makan.

Kerajinan Tiongkok | Han Surgawi: Kehidupan, kematian, dan seni keabadian

Benda-benda lain menunjukkan keanggunan dan perhatian. Sebuah kotak kosmetik berlapis pernis bertingkat menyimpan barang-barang pribadi, mulai dari sisir dan bedak hingga aksesori sutra, yang menggambarkan rutinitas kecantikan kuno.

Bersama-sama, mereka merekonstruksi gambaran kehidupan di sebuah rumah tangga elit – mulai dari waktu makan dan pertemuan hingga momen-momen tenang dan pribadi.

Kerajinan Tiongkok | Han Surgawi: Kehidupan, kematian, dan seni keabadian

Heavenly Han juga mengungkapkan bagaimana kaum elit Han memahami dunia di luar sana. Pembakar dupa, terutama dupa Boshan yang ikonik berbentuk seperti puncak gunung, menyajikan lanskap mistik.

Saat dinyalakan, asap mengepul melewatinya seperti awan yang melayang, mewujudkan kepercayaan bahwa obor tersebut dapat membawa persembahan – dan mungkin juga jiwa itu sendiri – menuju surga.

Kerajinan Tiongkok | Han Surgawi: Kehidupan, kematian, dan seni keabadian

Visi ini juga tercermin dalam bahasa visual kerajinan tangan Han. Motif awan yang mengalir, yang diwarisi dari tradisi sebelumnya, berkembang menjadi pola yang dinamis.

Dengan mewakili qi, atau udara, sebagai kekuatan vital alam semesta, desain-desain ini mengubah objek menjadi ekspresi pergerakan kosmik.

Setiap benda di makam Lady Dai mencerminkan kesinambungan, kepercayaan, dan perhatian. Barang-barang pernis melestarikan ritual sehari-hari, tekstil mewujudkan keanggunan dan status, sementara dupa dan gambar-gambar mengarah pada kehidupan setelah kematian yang dibayangkan dengan cermat.

Dengan Heavenly Han, sejarah melampaui pelestarian dan memasuki pengalaman, menciptakan dunia di mana kehidupan, kematian, dan keabadian terikat bersama melalui barang-barang pernis, sutra, dan asap yang naik dengan tenang. [CGTN]