BEIJING, Bharata Online - Saat dunia memperingati Hari Anak Internasional pada tanggal 1 Juni, ini adalah waktu untuk kegembiraan dan antisipasi bagi anak-anak di seluruh negeri.
Sembari orang tua bersiap merayakan momen ini, mereka juga perlu mengingat pentingnya hari lain yang baru saja berlalu. 25 Mei adalah Hari Kesehatan Mental Siswa Nasional.
Di luar hadiah dan keseruan di taman hiburan pada Hari Anak Internasional, bagaimana kita dapat meletakkan fondasi yang kuat untuk kesehatan mental anak-anak kita?
Solusinya melampaui dokter dan rumah sakit. Hal ini membutuhkan upaya kolektif untuk mengatasi krisis yang semakin meningkat di sekolah dan perguruan tinggi kita.
Sebuah studi tahun 2025 terhadap siswa sekolah menengah di Chongqing mengungkapkan statistik yang mengkhawatirkan: sekitar 26,34 persen dari 12.367 anak menunjukkan tanda-tanda depresi. Pertimbangkan kasus "Qi Qi" (bukan nama aslinya), seorang siswa berusia 14 tahun dari sebuah sekolah menengah di Chongqing.
Di sekolah, Qi Qi selalu menyendiri dan jarang berkomunikasi dengan teman-teman sekelasnya.
Semua orang mengira dia hanya pemalu, tetapi kesedihannya tumbuh semakin hebat di dalam dirinya. Suatu hari, setelah ujian matematika, Qi Qi menangis tersedu-sedu dan berkata dia tidak ingin pergi ke sekolah lagi — dia tidak ingin hidup di dunia ini lagi.
Kisah Qi Qi adalah sebuah peringatan. Kita hidup di era kecerdasan buatan dan jejak digital.
Alat-alat ini harus digunakan untuk melindungi anak-anak kita. Di sinilah "fenotipe digital" berperan.
Konsep ini mungkin terdengar kompleks, tetapi sederhananya berarti menggunakan data dari perangkat — seperti ponsel dan jam tangan — untuk memahami perilaku anak.
Ini bukan fiksi ilmiah, melainkan tindakan yang diperlukan.
AI dapat mendeteksi perubahan kecil yang mungkin terlewatkan oleh orang tua atau guru. Misalnya, penurunan pesan atau panggilan secara tiba-tiba, dan waktu penggunaan layar di malam hari yang lebih lama dari biasanya. Ini bisa menjadi tanda peringatan dini.
Ini bukan soal pengawasan, tetapi tentang turun tangan lebih awal untuk membantu.
Di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Kedokteran Chongqing, sebuah pusat medis regional nasional untuk gangguan kesehatan mental, para dokter sedang mengeksplorasi cara menggabungkan data — seperti ekspresi wajah dan nada suara — dengan AI untuk membangun model yang dapat mengidentifikasi masalah emosional sejak dini.
Inovasi teknologi saja tidak cukup. Kita juga harus melihat penyebab mendasar yang mengganggu anak-anak.
Tekanan untuk mendapatkan nilai bagus dalam bidang akademik dan terkikisnya dukungan keluarga dekat adalah masalah nyata.
Kebijakan "pengurangan ganda" Kementerian Pendidikan merupakan langkah awal yang baik untuk mengurangi stres di sekolah, tetapi perubahan pola pikir yang lebih luas masih dibutuhkan.
Kita harus menghargai kekuatan emosional sama seperti kita menghargai prestasi akademik.
Keluarga dapat menjadi "stasiun pengisian daya" untuk kesejahteraan emosional anak. Kebiasaan sederhana sehari-hari dapat membuat perbedaan besar. Ubah ceramah menjadi percakapan.
Alih-alih bertanya, "Mengapa kamu gagal?", cobalah "Kamu terlihat sedih. Mau membicarakannya?" Ciptakan "waktu ajaib" untuk keluarga dengan menyisihkan 15 menit setelah makan malam untuk melepaskan diri dari perangkat elektronik dan terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan. Menari seperti orang bodoh, bermain Lego, atau sekadar tertawa.
Biarkan stres mereda. Adakan "pesta kegagalan" untuk merayakan kesalahan sebagai momen pembelajaran.
Ketika anak-anak melihat bahwa jawaban yang salah atau nilai buruk bukanlah akhir dunia, hal itu mengurangi rasa takut mereka akan kegagalan.
Ini bukan sekadar omong kosong. Tindakan nyata sedang berlangsung. Sebagai bagian dari "Aliansi Kolaboratif Regional Sunshine Mind untuk Pengembangan Pemuda", kami meluncurkan enam proyek, termasuk "Tim Layanan Sukarelawan Sunshine Mind", "Proyek Promosi Kesehatan Tidur Remaja" dan "Rencana Perawatan untuk Anak-Anak yang Membutuhkan".
Program-program ini membawa layanan kesehatan mental langsung ke sekolah, komunitas, dan keluarga. Program-program ini mengalihkan kita dari upaya-upaya yang acak dan tidak terhubung ke sistem perawatan yang jelas dan terorganisir.
Kisah Qi Qi berakhir bahagia. Dengan konseling, dukungan penuh kasih dari orang tuanya, dan program sekolah yang mendorong bermain di luar ruangan, ia perlahan menemukan kembali kebahagiaan.
Saat kita merayakan 1 Juni, mari kita ingat bahwa hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita bukanlah mainan, melainkan alat untuk memahami dan mengelola dunia batin mereka.
Dengan menggunakan AI yang beretika, ikatan keluarga yang kuat, dan dukungan komunitas, kita dapat membantu setiap anak tidak hanya bertahan hidup — tetapi benar-benar berkembang. [China Daily]