Shenzhen, Bharata Online - Film anti-perang "Once Upon a Time in the Middle East" mencerminkan gagasan masyarakat Tiongkok tentang upaya mewujudkan masa depan bersama, menjunjung tinggi perdamaian, dan menentang hegemoni, dengan gaya sinematik yang sangat berbeda dari narasi kepahlawanan film-film Hollywood, demikian menurut komentar China Global Television Network (CGTN) yang diterbitkan pada hari Kamis (13/8).
Film yang dirilis secara nasional pada hari Selasa (11/8) dan telah meraup pendapatan box office lebih dari 400 juta yuan (sekitar 1,1 triliun rupiah) hingga hari Kamis (13/8) pukul 19.00 itu berkisah tentang Xu Fu, seorang koki Tiongkok yang sedang mengalami nasib sial dan diperankan oleh komedian ternama Shen Teng, yang pergi ke Timur Tengah untuk melunasi utang-utangnya.
Di sana, ia bekerja sama dengan seorang manajer restoran setempat untuk mengelola sebuah restoran yang ramai, sekaligus membawa tradisi kuliner Tiongkok yang autentik ke negeri asing yang dilanda perang.
Alih-alih berfokus pada medan pertempuran, film ini menggunakan unsur makanan dan kehidupan sehari-hari untuk mengeksplorasi tema kelangsungan hidup, welas asih, dan nilai perdamaian.
Menurut komentar tersebut, banyak warganet menyimpulkan bahwa film-film Tiongkok seperti "Once Upon a Time in the Middle East" mendobrak pola narasi tradisional Hollywood.
Dalam narasi Hollywood, Amerika Serikat sering kali digambarkan sebagai protagonis yang menyelamatkan dunia, sementara tentara Amerika kerap menjadi sosok pahlawan yang melenyapkan "musuh" dan menjaga "perdamaian". Namun, kenyataannya justru sebaliknya, demikian disebutkan dalam komentar tersebut.
Para ahli berpendapat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, film-film Tiongkok seperti "Once Upon a Time in the Middle East" telah membentuk ulang narasi global dari sudut pandang yang lebih objektif serta mendapatkan suara baru di kancah internasional, ungkap komentar tersebut.