Yangquan, Bharata Online - Berbagai kegiatan peringatan digelar di berbagai kota di Tiongkok untuk menandai peringatan ke-95 Insiden 18 September, peristiwa yang menandai dimulainya invasi Jepang ke Tiongkok selama 14 tahun.

Insiden tersebut menjadi pertanda awal Perang Dunia II dan menjadikan Tiongkok sebagai negara pertama yang melawan fasisme.

Selama Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok terhadap Agresi Jepang yang berlangsung hingga tahun 1945, Tiongkok mencatat total 35 juta korban jiwa dan luka-luka, baik dari kalangan militer maupun sipil; jumlah ini mencakup sepertiga dari total korban di seluruh negara yang terlibat dalam Perang Dunia II.

Di Kota Yangquan, Provinsi Shanxi (Tiongkok Utara), perwakilan dosen dan mahasiswa berkumpul di Monumen Kampanye Seratus Resimen untuk meletakkan karangan bunga dan memberikan penghormatan mendalam kepada para pahlawan revolusi.

Dengan mengulang kembali ikrar penerimaan mereka ke dalam Liga Pemuda Komunis Tiongkok, para generasi muda tersebut menyatakan tekad bulat untuk meneruskan tradisi dan warisan revolusioner.

Para dosen dan mahasiswa juga mengunjungi gedung peringatan Kampanye Seratus Resimen, mengenang kembali masa-masa perang yang penuh kesulitan, serta merenungkan semangat perlawanan yang luar biasa.

"Sebagai generasi muda di era baru ini, kami akan senantiasa mengingat misi ini dan belajar dengan tekun. Kami akan meneruskan tradisi dan semangat revolusioner melalui tindakan nyata serta mendorong kebangkitan nasional dengan kekuatan kaum muda," ujar Guo Zhenyu, Mahasiswa Institut Teknologi Shanxi.

Sementara itu, sebuah pameran bertema penghormatan bagi para pahlawan revolusi sedang digelar di Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang (Tiongkok Timur Laut).

Pameran ini menampilkan beragam koleksi berharga berupa artefak budaya, arsip sejarah, dan literatur. Berbagai objek pameran mencakup beragam kategori, mulai dari senjata, publikasi sejarah, barang-barang pribadi milik para pahlawan, peralatan produksi, medali militer, hingga stempel resmi organisasi massa.

"Saya merasa sangat terharu, terutama saat melihat peralatan yang digunakan oleh para pejuang Tentara Gabungan Anti-Jepang Timur Laut. Perjuangan revolusi tidaklah mudah, pendirian Republik Rakyat Tiongkok dicapai dengan pengorbanan besar, dan era kejayaan saat ini pun tidak terwujud dengan gampang. Hal utama yang harus kita lakukan adalah menghargai apa yang kita miliki saat ini, dan selanjutnya, terus berjuang melangkah maju," kata Yang Wenbin, Pengunjung dari Provinsi Sichuan (Tiongkok Barat Daya).

Pada malam tanggal 18 September 1931, Tentara Kwantung Jepang mengebom sebagian jalur Kereta Api Manchuria Selatan di dekat Danau Liutiao, di pinggiran utara Shenyang.

Jepang menuduh pasukan Tiongkok sebagai pelaku tindakan tersebut dan menjadikannya dalih untuk menyerang Beidaying (Asrama Militer Utara Besar), tempat pasukan Tentara Timur Laut Tiongkok ditempatkan, serta kemudian membombardir Shenyang.

Peristiwa 18 September 1931 tersebut menandai dimulainya perang perlawanan Tiongkok terhadap agresi Jepang.