Washington, D.C., Bharata Online - Amerika Serikat mengembalikan total 64 buah (set) benda cagar budaya dan fosil paleontologi ke Tiongkok pada hari Rabu (16/9) dan Jumat (18/9).
Administrasi Warisan Budaya Nasional Tiongkok menerima artefak dan fosil tersebut di Washington, D.C. dan New York City. Benda-benda itu sebelumnya disita oleh badan penegak hukum di Amerika Serikat.
"Benda cagar budaya yang dikembalikan kali ini mencakup berbagai era dan jenis material. Benda-benda tersebut meliputi 58 buah (set) artefak dan fosil paleontologi yang dikembalikan oleh badan Investigasi Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security Investigations) Amerika Serikat, serta benda cagar budaya yang dikembalikan oleh Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan. Ini juga merupakan kali kelima Kantor Kejaksaan Distrik Manhattan mengembalikan benda cagar budaya ke Tiongkok," ujar Zhu Ye, Wakil Kepala Kantor Pemulihan dan Restitusi Aset Budaya yang Hilang di bawah naungan Administrasi Warisan Budaya Nasional Tiongkok.
"Ini merupakan pencapaian penting lainnya dalam dua tahun terakhir, setelah Kedutaan Besar Tiongkok di AS menerima benda-benda cagar budaya berharga, termasuk Wuxing Ling dan Gongshou Zhan, dua bagian dari Naskah Sutra Zidanku, serta artefak plakat berbentuk harimau dari periode Negara-Negara Berperang (475-221 SM)," kata Duta Besar Tiongkok untuk AS, Xie Feng.
Kedua belah pihak menyatakan bahwa pengembalian terbaru ini merupakan hasil terkini dari kerja sama Tiongkok-AS di bidang warisan budaya dalam upaya bersama melaksanakan konsensus yang dicapai oleh kedua kepala negara saat pertemuan mereka di Beijing, serta akan mendorong pertukaran antarmasyarakat kedua negara.
"Kami telah berhasil mencapai banyak hal dalam beberapa tahun terakhir, dan kami bekerja sama untuk memastikan sejarah serta warisan budaya Tiongkok tetap aman dan terjaga kelestariannya," ujar Ricardo Mayoral, Asisten Direktur Investigasi Keamanan Dalam Negeri AS.
"Benda-benda budaya yang dikembalikan oleh AS, baik kali ini maupun sebelumnya, semuanya akan dipamerkan dalam sebuah pameran mengenai hasil pemulihan dan restitusi aset budaya yang sempat hilang, dan kami sedang melakukan persiapan untuk itu. Saya yakin harta karun peradaban ini akan memungkinkan rakyat Tiongkok merasakan persahabatan yang mendalam dari rakyat Amerika, serta membantu kedua negara memetik energi positif berupa saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, dan kerja sama yang saling menguntungkan melalui pertukaran dan kerja sama di bidang warisan budaya. Dengan demikian, masyarakat internasional dapat melihat lebih jelas upaya Tiongkok dan AS dalam memikul tanggung jawab sebagai negara besar melalui kerja sama mereka untuk melindungi dan melestarikan pencapaian peradaban manusia," ujar Rao Quan, Wakil Menteri Kebudayaan dan Pariwisata sekaligus Kepala Administrasi Warisan Budaya Nasional Tiongkok.
Tiongkok dan AS menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang bertujuan mencegah impor ilegal artefak budaya Tiongkok ke Amerika Serikat pada tahun 2009, serta memperpanjangnya pada tahun 2014, 2019, dan 2024.
Berdasarkan MoU tersebut, pembatasan impor akan diberlakukan terhadap benda-benda yang berasal dari periode Paleolitikum hingga Dinasti Tang (618-907), serta terhadap patung monumental dan karya seni dinding yang berusia setidaknya 250 tahun.