JINGDEZHEN, Bharata Online - Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen di Provinsi Jiangxi, Tiongkok, meneliti dan mendokumentasikan berbagai pecahan keramik kuno sebagai bagian dari upaya melengkapi data “Bank Gen Keramik Kuno” sekaligus menjaga warisan industri porselen kekaisaran yang telah berkembang selama berabad-abad.

Para peneliti di institut tersebut menyatukan pecahan keramik secara manual, sementara perangkat robot digunakan untuk memindai ratusan spesimen dengan berbagai bentuk.

Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen bertanggung jawab terhadap perlindungan dan pameran warisan budaya di Taman Situs Arkeologi Nasional Tungku Kekaisaran Jingdezhen serta menjalankan penelitian dan pekerjaan arkeologi terkait di wilayah tersebut.

Jingdezhen dikenal sebagai pusat industri porselen kekaisaran Tiongkok sejak abad ke-10 hingga abad ke-19 dengan produksi sekitar 80 ribu unit keramik per tahun dalam berbagai bentuk seperti piring, mangkuk, cawan, tempayan, dan guci.

Keramik tersebut dikirim ke ibu kota kerajaan untuk digunakan sebagai hiasan istana, perlengkapan ritual kerajaan, hingga hadiah bagi mitra kerajaan lainnya.

Keramik Jingdezhen Tersebar hingga Eropa

Produk keramik Jingdezhen dalam perkembangannya tersebar hingga Asia Timur, Asia Tenggara, kawasan Samudra Hindia, Semenanjung Arab, Afrika, dan Eropa.

Standar kualitas untuk keramik yang akan dikirim kepada kaisar sangat ketat sehingga produk yang tidak lolos seleksi dibuang dan dipendam di berbagai lokasi dekat tungku pembakaran.

Direktur Institut Tungku Kekaisaran Jingdezhen Weng Yanjun menunjukkan salah satu koleksi berupa sepasang bebek berwarna dominan kuning dengan garis berwarna gelap yang dibuat pada masa Dinasti Ming.

“Keramik ini dibuat pada masa Dinasti Ming sekitar 550 tahun lalu. Kami menyebutnya tempat pembakaran dupa berbentuk bebek dengan hiasan sancai polos. Disebut polos karena tidak menggunakan warna merah," ucap Weng.

Sancai berarti “tiga warna” dan merupakan jenis keramik China kuno yang umumnya menggunakan warna dominan kuning, hijau, dan putih meski dapat pula memakai warna lain.

Keramik yang Gagal ke Istana Menjadi Warisan Berharga

Weng menjelaskan detail warna dan ukiran pada keramik berbentuk bebek tersebut dibuat dengan teknik yang rumit, termasuk pada bagian bulu, mata, lidah, dan paruh.

“Warna yang terlihat seperti hitam itu sebenarnya biru. Selain itu, terdapat warna kuning dan ungu. Jadi, benda ini menggunakan tiga warna. Perhatikan bulu-bulu bebek, ukiran pada bulunya dibuat dengan sangat terperinci, begitu pula mata, lidah dan paruh berbentuk seperti bunga, lidahnya, dan paruhnya. Baik pewarnaan maupun ukirannya dikerjakan secara sangat rumit," ujar Weng.

Weng mengatakan benda-benda yang kini dipamerkan tersebut pada masanya tidak pernah berhasil dikirim ke istana kekaisaran di Beijing maupun Nanjing karena tidak memenuhi standar yang ditetapkan untuk kaisar.

Penelitian terhadap berbagai peninggalan tersebut menjadi bagian dari dokumentasi sejarah keramik Jingdezhen yang mencakup asal-usul, fungsi, teknik pembuatan, hingga ragam motif yang berkembang selama ratusan tahun. [sumber Pantau]