Gyirong, Bharata Online - Sumber bahaya di bagian hulu yang terletak di luar perbatasan Tiongkok menghadirkan tantangan besar bagi pemantauan tanah longsor lumpur di Kabupaten Gyirong, Daerah Otonom Tibet di Tiongkok Barat Daya, kata seorang peneliti Tiongkok pada hari Minggu (6/9).

Su Pengcheng, peneliti dari Institut Bahaya Pegunungan dan Lingkungan di Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences/CAS), memaparkan tantangan-tantangan tersebut dalam sebuah konferensi pers yang diadakan oleh markas besar tanggap darurat dan penyelamatan bencana di Tibet menyusul peristiwa tersebut.

Sebuah tanah longsor lumpur, yang dipicu oleh runtuhnya gletser di dataran tinggi Nepal, telah menyebabkan 43 orang tewas dan 519 orang lainnya hilang di pelabuhan perbatasan tersebut hingga hari Sabtu (5/9) pukul 18.00.

"Pelabuhan Gyirong terletak di daerah terpencil dan berketinggian tinggi di sepanjang perbatasan Tiongkok-Nepal. Zona sumber longsoran batuan gletser ini memiliki karakteristik suhu yang sangat dingin dan kadar oksigen rendah, sehingga menyulitkan akses bagi personel. Terdapat titik-titik buta (blind spot) dalam pemantauan di daerah aliran sungai lintas batas, dan peralatan pemantauan berbasis darat menghadapi tantangan signifikan terkait pasokan listrik, telekomunikasi, serta operasi dan pemeliharaan. Tanda-tanda awal dari rangkaian bencana longsoran batuan gletser dan aliran debris ini sulit terdeteksi, sehingga hanya menyisakan waktu yang sangat singkat untuk peringatan dini; selain itu, model pemantauan titik tunggal yang konvensional tidak memadai untuk mencakup sumber risiko di seluruh wilayah aliran sungai," ujar Su.

"Terjadinya rangkaian bencana majemuk yang melibatkan kriosfer merupakan proses alami yang tidak dibatasi oleh batas negara, dan fakta bahwa sumber bahaya di hulu terletak di luar Tiongkok menjadi kendala besar dalam upaya pemantauan kami," tegasnya.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, Su menekankan pentingnya kerja sama internasional.

"Dengan memanfaatkan platform kerja sama internasional, kita perlu memfasilitasi pertukaran data di seluruh wilayah aliran sungai dan penilaian risiko bersama dengan negara-negara di kawasan Himalaya, menjajaki mekanisme saluran pemberitahuan cepat untuk informasi peringatan dini lintas batas, serta memperluas kemampuan peringatan dini dari hulu hingga hilir di seluruh wilayah aliran sungai tersebut," katanya.

Su merekomendasikan fokus pada tiga bidang prioritas untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana.

Pertama, ia mendesak peningkatan penelitian mengenai mekanisme bencana yang mendasari rangkaian bencana majemuk kriosfer, khususnya longsoran batuan gletser dan aliran debris lintas batas di Himalaya, serta menyerukan peningkatan deteksi dan penilaian terhadap sinyal peringatan dini yang mendahului bencana tersebut.

Kedua, ia menyerukan pengembangan sistem pemantauan non-kontak terintegrasi yang mencakup ruang angkasa, udara, dan darat di seluruh wilayah Himalaya untuk mengurangi ketergantungan pada instalasi lapangan di zona dataran tinggi ekstrem.

Ketiga, ia menekankan perlunya memajukan kemitraan ilmiah lintas batas dan kerangka kerja koordinasi peringatan dini yang terlembagakan.