Haiyang, Bharata Online - Tiongkok telah mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tahun ini dan kini memimpin dunia dalam hal konstruksi serta kapasitas pembangkitan listrik tenaga nuklir, yang didukung oleh sistem industri dan rantai pasok berskala besar serta berkapabilitas tinggi.
Pada akhir Juni 2026, seiring rampungnya pengangkatan modul tangki air pendingin penahanan pasif (passive containment cooling water tank) untuk Unit 4 di proyek Tahap II PLTN Haiyang di Kota Haiyang, Provinsi Shandong, Tiongkok Timur, proyek tersebut memasuki tahap instalasi dan uji coba operasional (commissioning).
"Unit 3 dan 4 PLTN Haiyang sepenuhnya menggunakan teknologi rancangan dalam negeri dan teknologi mandiri. Setelah beroperasi penuh pada tahun 2027, keempat unit tersebut akan menghasilkan 40 miliar kilowatt-jam listrik setiap tahunnya, yang mampu memenuhi kebutuhan listrik bagi separuh penduduk Shandong," ujar Li Jianwei, Komandan Umum Proyek Tahap II PLTN Haiyang dari State Power Investment Corp (SPIC).
Tiongkok memiliki 58 unit pembangkit listrik tenaga nuklir yang telah disetujui dan sedang dalam tahap konstruksi, mencakup lebih dari separuh total jumlah unit serupa di seluruh dunia. Kapasitas pembangkitan terpasang dari unit-unit nuklir yang sedang beroperasi maupun yang sedang dibangun telah mencapai 135 juta kilowatt, menempatkan Tiongkok di peringkat pertama dunia.
Sebagai sumber energi utama yang mendorong transformasi hijau dalam ekonomi dan masyarakat, tenaga nuklir di Tiongkok berkontribusi hampir lima persen terhadap total pembangkitan listrik nasional, meskipun porsinya kurang dari dua persen dari total kapasitas daya terpasang nasional.
Di empat provinsi—Guangdong, Fujian, Liaoning, dan Hainan—tenaga nuklir menyumbang lebih dari 15 persen dari total pembangkitan listrik di wilayah tersebut.
"Tiongkok telah membangun sistem industri dan rantai pasok tenaga nuklir yang berskala besar, komprehensif, berstandar tinggi, dan memiliki kapabilitas mumpuni. Tingkat lokalisasi peralatan telah melampaui 90 persen, menjadikan Tiongkok salah satu dari sedikit negara di dunia yang memiliki sistem industri tenaga nuklir yang lengkap," kata Zhao Xueshun, Wakil Direktur Departemen Tenaga Nuklir di Administrasi Energi Nasional (National Energy Administration).
Pada akhir Juli 2026, Tiongkok menyetujui delapan unit pembangkit listrik tenaga nuklir tambahan. Ini merupakan gelombang pertama proyek tenaga nuklir yang disetujui dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030). Selama periode ini, Tiongkok akan terus berpegang pada prinsip pembangunan tenaga nuklir yang kokoh, aman, dan tertib, memajukan pengembangan kawasan tenaga nuklir di pesisir timur secara bertahap, serta meningkatkan porsi tenaga nuklir dalam konsumsi energi dan listrik secara bertahap.
Pada tahun 2030, kapasitas terpasang tenaga nuklir Tiongkok diperkirakan akan mencapai sekitar 110 juta kilowatt.