Tianjin, Bharata Online - Film antiperang asal Tiongkok, "Once Upon a Time in the Middle East", telah menuai pujian luas sejak dirilis awal bulan ini. Kisahnya yang mengharukan tentang orang-orang biasa yang terjebak dalam kekacauan konflik terus membekas di benak penonton bahkan setelah film usai.

Film ini menjadi salah satu kisah sukses yang tak terduga sejak dirilis pada 11 Agustus 2026, meraup lebih dari 1,6 miliar yuan (lebih dari 4,2 triliun rupiah) di box office dan mengukuhkan posisinya sebagai salah satu film paling sukses di musim panas yang menguntungkan bagi industri film Tiongkok.

Alih-alih mengandalkan adegan pertempuran kolosal, alur cerita film ini hampir sepenuhnya berlangsung di dalam sebuah restoran Tiongkok kecil di sebuah negara Timur Tengah yang dilanda perang pada awal tahun 2000-an.

Disutradarai oleh Wen Muye, sosok yang sudah berpengalaman menangani tema-tema berat setelah sukses dengan drama sosial tahun 2018, "Dying to Survive", film baru ini memberikan kesan mendalam bagi para penggemar film.

Film ini mengisahkan Xu Fu, seorang koki Tiongkok yang sedang mengalami nasib buruk—diperankan oleh komedian Shen Teng—yang pergi ke wilayah tersebut untuk melunasi utang-utangnya. Di sana, ia bekerja sama dengan seorang manajer restoran setempat untuk mengelola restoran yang ramai, serta menyajikan masakan Tiongkok autentik di tengah negara yang sedang dilanda perang.

Dalam sebuah acara promosi baru-baru ini di Kota Tianjin, Tiongkok Utara, pemeran utama dan sutradara film tersebut berbagi refleksi mereka mengenai proses pembuatan film ini.

"Saat Xu Fu tua bertemu dengan dirinya yang lebih muda di bandara—sosok dirinya dari 20 tahun yang lalu—saya rasa dia bertanya-tanya apakah ada orang yang bersedia pergi ke Timur Tengah. Namun pada akhirnya, apa yang ia dapatkan jauh lebih berharga daripada apa yang ia korbankan, sehingga perjalanan itu tetaplah bermakna," ujar aktor utama Shen.

"Kita sebagai orang Tiongkok harus mencintai perdamaian, menikmati makanan yang lezat, dan menyebarkan nilai-nilai perdamaian kepada dunia," kata sutradara Wen.

Film ini juga menyentuh sisi emosional para penonton, dengan beberapa di antaranya berbagi momen-momen yang paling berkesan bagi mereka.

"Ada satu adegan yang benar-benar membekas di ingatan saya. Tiba-tiba, para tokoh utama mengatakan ada gempa bumi, padahal sebenarnya itu adalah serangan bom. Saya merasa sangat terguncang saat itu, dan air mata pun mengalir deras di wajah saya," ungkap Song Meixuan, salah seorang penonton. "Saya ingin mengutip kalimat terakhir dari film tersebut: 'Makanlah dengan baik, hiduplah dengan baik. Kedamaian adalah fondasi dari segalanya,'" ujar penonton, Lyu Haokai.

"Film ini bercerita tentang persahabatan, kehidupan, dan anak-anak. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah bahwa setiap kehidupan itu berharga, di mana pun dan kapan pun," kata penonton lainnya.

Kesuksesan film ini terjadi saat Tiongkok mendekati akhir musim box office musim panas yang berlangsung selama tiga bulan—dari 1 Juni hingga 31 Agustus 2026—di tengah upaya pihak berwenang meluncurkan berbagai kampanye untuk mendorong konsumsi di bioskop-bioskop di seluruh negeri.