Wuhan, Bharata Online - Wuhan, yang terletak di Provinsi Hubei, Tiongkok Tengah, sedang mendefinisikan ulang konsep pembaruan kota dengan mengubah bekas kawasan industri di tepi perairan menjadi ruang publik hijau yang hidup, sekaligus menyoroti pergeseran negara tersebut menuju pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
Sebagai kota yang dibangun di tepi perairan, Wuhan sejak lama dikenal karena kemegahan Sungai Yangtze dan Danau Timur (East Lake) yang luas. Namun, selama beberapa dekade, pesatnya perkembangan industri berat sempat memisahkan warga dari akses ke tepi perairan mereka sendiri.
Distrik Qingshan dulunya merupakan pusat industri berat Wuhan yang sibuk dan dikenal luas sebagai "kota baja". Pada tahun 2013, distrik ini memelopori proyek renovasi menyeluruh untuk memulihkan garis pantainya yang membentang sepanjang 7,5 kilometer.
"Setelah renovasi di sini, dermaga industri dan pasir yang lama telah sepenuhnya dibersihkan. Melalui upaya pemulihan lingkungan, kawasan ini bertransformasi dari peradaban industri menjadi peradaban ekologis. Sembari menikmati waktu luang dan rekreasi, warga tetap dapat mengenang sejarah industri dermaga lama ini," ujar Zheng Yucheng, seorang pemandu wisata di Taman Tepi Sungai Qingshan.
Kini menjadi kawasan tepi perairan berkelas dunia, lokasi tersebut berfungsi sebagai taman kota berkonsep "kota spons" (sponge city) yang mampu menyerap air hujan dan menghasilkan kapasitas penyerapan karbon sebesar 723 ton setiap tahunnya.
"Tempat ini tidak hanya indah, tetapi kami juga sangat terkesan dengan kepedulian pihak berwenang terhadap alam dan perlindungan ekologis di sekitarnya. Sungai Yangtze merupakan bagian dari sejarah dunia, dan kami senang bisa menyaksikannya secara langsung hari ini," kata Juan Carlos Moraga, Presiden Human Rights Without Frontiers, sebuah organisasi non-pemerintah asal Chili, dalam kunjungannya baru-baru ini ke Wuhan.
Pembenahan kawasan hijau ini berlanjut secara harmonis dari sungai hingga ke danau. Danau Timur, yang merupakan danau perkotaan terbesar di Tiongkok, memiliki jalur hijau berkelas dunia sepanjang 102 kilometer yang dilengkapi dengan jalur pejalan kaki serta jalur khusus untuk berjalan santai, joging, dan bersepeda.
Jalur hijau tersebut telah diakui oleh UN-Habitat sebagai proyek percontohan dalam upaya peningkatan kualitas ruang publik perkotaan.
"Hal yang paling saya sukai adalah lapangan olahraga, karena fasilitas ini tersedia di mana-mana dan terbuka untuk umum. Ini sangat menyenangkan," ujar Odmaa Munkhzaya, Wisatawan Mongolia.
Bagi warga setempat, jalur hijau ini memiliki makna yang lebih personal.
"Menurut saya, bagian terindah dari Danau Timur adalah orang-orangnya—keluarga, pasangan, anak-anak, dan lansia yang menikmati hidup bersama di sini," ungkap salah seorang warga.