Afrika Selatan, Bharata Online - Pelabuhan Durban, sebuah jalur perdagangan vital bagi Afrika Selatan dan kawasan sekitarnya, telah mendapatkan dorongan baru untuk pengembangan berkat pendanaan yang didukung oleh BRICS.

Pelabuhan ini menangani lebih banyak kargo dibandingkan pelabuhan lain mana pun di Afrika. Namun, infrastruktur yang menua dan hambatan logistik selama bertahun-tahun telah membebani kinerjanya. Kini, pendanaan pemerintah dan internasional senilai ratusan juta dolar sedang membantu mentransformasi pelabuhan tersebut.

New Development Bank merupakan salah satu lembaga keuangan internasional yang mendukung upaya modernisasi oleh operator pelabuhan, yang diawali dengan pemberian pinjaman sebesar 260 juta dolar (sekitar 4,6 triliun rupiah) pada tahun 2018.

"Kami sedang memperbaiki infrastruktur yang ada saat ini. Selain itu, investasi pada derek jib (jib cranes) yang akan didatangkan merupakan bagian dari upaya kami untuk membenahi dermaga itu sendiri. Pilar keduanya adalah transformasi bisnis. Jadi, bagian dari transformasi bisnis ini mencakup pengadaan fasilitas central lift yang nantinya akan digunakan untuk memperbaiki kapal-kapal kami sendiri," ujar Mpumi Dweba-Kwetana, Manajer Pelabuhan Durban.

Pelabuhan tersebut kini bersiap menghadapi peningkatan lalu lintas peti kemas seiring dengan mulai terbentuknya Kawasan Perdagangan Bebas Kontinental Afrika atau African Continental Free Trade Area (AfCFTA).

"Kami memosisikan diri agar mampu mendatangkan kapal-kapal yang lebih besar, namun yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan efisiensi kerja serta menetapkan tarif dermaga yang tepat," kata Mpumi.

Namun, pelabuhan modern juga membutuhkan jaringan pengumpan (feeder network) yang berfungsi dengan baik.

Pada tahun 2024, New Development Bank mengumumkan fasilitas pendanaan tambahan sebesar 300 juta dolar (sekitar 5,3 triliun rupiah) untuk mendukung pemulihan sistem angkutan kereta barang Transnet.

Jaringan tersebut sangat terdampak oleh vandalisme, pencurian, dan kegagalan operasional, yang menghambat arus barang menuju pelabuhan serta membebani pertumbuhan ekonomi.

"Jika kita melihat kurangnya pertumbuhan ekonomi kita, masalahnya terletak pada sisi penawaran. Pertama adalah masalah kelistrikan yang membutuhkan waktu lebih dari satu dekade, hampir 16 tahun, untuk diselesaikan. Kini kita menghadapi masalah serupa di sektor logistik yang harus segera kita atasi; karena jika sektor logistik tidak berjalan lancar, kita bahkan tidak bisa memetik manfaat dari lonjakan harga komoditas," ujar Menteri Keuangan Afrika Selatan, Enoch Godongwana.

Strategi "Reinvent for Growth" (Menata Ulang demi Pertumbuhan) milik Transnet bertujuan untuk membangun kembali infrastruktur dan meningkatkan efisiensi. Tujuannya adalah mempercepat pergerakan barang, mulai dari lokasi tambang dan lahan pertanian menuju pelabuhan, hingga ke pasar internasional.

"Jika kita tidak membenahinya, sistem yang ada akan terus memburuk. Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, karena sistem yang memburuk, seperti yang sudah saya sampaikan, akan memicu berbagai masalah seperti kereta anjlok dan beragam insiden lainnya di jalur kereta. Laju kereta menjadi tidak cukup cepat. Akibatnya, kecepatan arus barang dari dan menuju pelabuhan pun melambat," ujar Michelle Phillips, CEO Transnet.

Pembenahan kembali jaringan pelabuhan dan kereta api Afrika Selatan bukan sekadar soal membangun infrastruktur yang tangguh. Langkah ini bertujuan meningkatkan daya saing negara serta memperkokoh posisi Durban sebagai pintu gerbang penghubung antara Afrika dan kerja sama perdagangan BRICS yang lebih luas.