Paraiba, Bharata Online - Kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLTA) Serra da Palmeira, sebuah proyek angin utama di Brasil, salah satu dari lima negara anggota awal BRICS, telah mendapatkan manfaat dari New Development Bank. Kini, proyek tersebut menjadi contoh nyata kerja sama BRICS sekaligus turut mendorong transisi energi terbarukan di negara Amerika Selatan itu.

Mekanisme kerja sama BRICS tahun ini menandai peringatan hari jadinya yang ke-20. Selama dua dekade terakhir, mekanisme itu telah berkembang menjadi platform utama bagi kerja sama antarnegara berkembang dan pasar negara berkembang (emerging markets). Sejak KTT perdananya pada tahun 2009, kelompok tersebut telah berkembang hingga mencakup 11 anggota penuh dan 10 negara mitra.

Di negara bagian Paraiba, Brasil Timur Laut, ekosistem semi-gersang yang unik di wilayah ekologi Caatinga menawarkan sumber energi bersih yang melimpah, karena angin bertiup di wilayah tersebut hampir sepanjang tahun (hampir 365 hari). Kompleks PLTB Serra da Palmeira memanfaatkan aliran angin tersebut melalui 108 turbin yang mampu menghasilkan daya sebesar 648 megawatt.

Fasilitas itu dikembangkan oleh CTG, anak perusahaan China Three Gorges Corporation di Brasil. Konstruksinya dimulai pada Oktober 2023 dan rampung dua tahun kemudian, pada Oktober 2025. Proyek ini merupakan upaya teknis dan logistik berskala besar, yang melibatkan pengangkutan komponen-komponen raksasa dari pelabuhan ke lokasi proyek, pemasangan kabel, serta pendirian menara setinggi 120 meter dan bilah turbin sepanjang 80 meter.

Carlos Nascimento, seorang insinyur kelistrikan, turut mengawasi transformasi lanskap tersebut dari awal hingga akhir. Kini, ia mengungkapkan kepuasan pribadi yang mendalam atas kontribusinya terhadap kemandirian energi berkelanjutan Brasil.

"Kompleks Serra da Palmeira merupakan proyek ladang angin terbesar CTG di luar Tiongkok. Proyek ini istimewa karena mampu memadukan investasi besar dengan penerapan teknologi serta kemitraan yang harmonis antara Brasil dan Tiongkok," ujar Carlos Nascimento, Manajer Senior Operasi dan Pemeliharaan di CTG Brasil.

Proyek ini membutuhkan investasi besar senilai 800 juta dolar AS (sekitar 14,1 triliun rupiah). Ribuan mil jauhnya, di Shanghai, Tiongkok, New Development Bank memainkan peran kunci dalam pendanaan tersebut dengan menyetujui pinjaman sebesar 1,4 miliar yuan (sekitar 3,5 triliun rupiah) pada bulan September 2025. Direktur Keuangan CTG Brazil, Rodrigo Egreja, menyatakan bahwa keputusan tersebut sangat krusial bagi penyelesaian proyek ini.

"Akses terhadap sumber daya yang besar, dalam hal ini, pembiayaan dalam mata uang Tiongkok dengan biaya yang sangat kompetitif, sangatlah mendasar karena memberikan kepastian finansial bagi proyek serta berkontribusi pada tingkat pengembalian dan kelayakannya. Pembiayaan dari bank BRICS juga menghadirkan kredibilitas kelembagaan dan memperkuat kepercayaan para mitra yang terlibat," ujar Egreja.

Di ruang kendali lokasi proyek, para teknisi memantau ribuan titik data waktu nyata yang berasal dari sensor dan kamera, serta terus mengawasi untuk menjaga aliran energi puncak sebesar enam megawatt dari setiap turbin.

Perusahaan menyatakan optimismenya terhadap keberhasilan komersial proyek ini, mengingat besarnya kapasitas output yang dihasilkan.

Berbagai proyek sukses di bawah kerangka kerja BRICS kini menjadi sorotan menjelang KTT BRICS ke-18, yang dijadwalkan berlangsung di ibu kota India pada hari Sabtu (12/9) dan Minggu (13/9).