Makau, Bharata Online - Tiongkok memainkan peran penting dalam memberdayakan negara-negara Global Selatan berkat pengalaman luasnya dalam pembangunan di berbagai bidang—termasuk pendidikan, infrastruktur, teknologi, dan perencanaan jangka panjang, demikian disampaikan oleh seorang akademisi asal Brasil menanggapi pidato Presiden Tiongkok, Xi Jinping, pada KTT BRICS ke-18.

Xi menghadiri Sesi II KTT BRICS ke-18 di New Delhi dan menyampaikan pidato pada hari Minggu (13/9). Dalam pidatonya, pemimpin Tiongkok itu mengusulkan lima inisiatif mengenai kerja sama "BRICS yang lebih luas" di bidang kecerdasan buatan (AI), fasilitasi perdagangan dan investasi, industri digital, manufaktur cerdas, dan pengembangan talenta.

"Poin terpentingnya adalah bahwa pemberdayaan Global Selatan tidak boleh hanya berarti memberikan suara politik yang lebih kuat, tetapi juga harus mencakup pemberian kapasitas pembangunan. Inilah sebabnya lima inisiatif Xi Jinping menjadi sangat signifikan. Inisiatif-inisiatif ini mencakup AI, perdagangan, manufaktur cerdas, dan sebagainya. Jadi, di sinilah saya meyakini Tiongkok memiliki peran yang sangat penting. Pengalaman pembangunan Tiongkok sendiri menunjukkan betapa pentingnya mengaitkan semua aspek ini, pendidikan, infrastruktur, teknologi, dan perencanaan jangka panjang," ujar Evandro Menezes Carvalho, Profesor Hukum Internasional di Fluminense Federal University, Brasil, dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN) melalui sambungan video pada hari Senin (14/9).

"Oleh karena itu, BRICS dapat membantu mengubah posisi Global Selatan dari sekadar konsumen teknologi dan pihak yang menerima aturan menjadi produsen teknologi dan pihak yang turut membentuk aturan. Pada akhirnya, itulah makna pemberdayaan. Bukan mengganti satu pusat kekuatan dengan pusat kekuatan lain, melainkan menciptakan kondisi agar negara-negara berkembang dapat memperoleh otonomi, kapasitas pembangunan, serta suara dalam menentukan masa depan. Inilah tujuan utama BRICS," imbuhnya.

Ia mengatakan bahwa BRICS tidak hanya menyediakan wadah untuk meningkatkan kerja sama Tiongkok-India, tetapi juga menunjukkan kepada dunia cara berkolaborasi sembari menjembatani perbedaan.

"India memegang presidensi BRICS tahun ini dan Tiongkok akan mengambil alihnya tahun depan. Hal ini menciptakan peluang unik selama dua tahun untuk menjaga kesinambungan. Beijing dan New Delhi dapat menunjukkan bahwa kepemimpinan di BRICS merupakan tanggung jawab bersama. Para pejabat Tiongkok dan India telah menekankan pentingnya kerja sama di antara mereka. Selain itu, ada aspek historis yang lebih luas. Jika Tiongkok dan India bekerja sama, suara negara-negara Global South akan menjadi jauh lebih kuat. Dengan demikian, BRICS dapat menjadi lebih dari sekadar wadah pertemuan bagi Tiongkok dan India. Forum ini bisa menjadi sarana bagi mereka untuk belajar mengelola perbedaan melalui kerja sama. Hal tersebut akan mengirimkan pesan yang kuat bagi seluruh negara di dunia. Multipolaritas menuntut kemampuan untuk hidup berdampingan, bekerja sama, dan membangun kepentingan bersama di tengah berbagai perbedaan," jelasnya.