New Delhi, Bharata Online - Seorang jurnalis Afrika mengatakan lima inisiatif kerja sama "BRICS yang lebih luas" yang diusulkan oleh Presiden Tiongkok, Xi Jinping, pada KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, menjawab prioritas utama yang dimiliki bersama oleh negara-negara di seluruh Global South (negara-negara berkembang).

KTT BRICS yang berlangsung selama dua hari itu berakhir pada hari Minggu (13/9). Pada hari kedua acara, Xi mengusulkan lima inisiatif di bidang kecerdasan buatan (AI), fasilitasi perdagangan dan investasi, industri digital, manufaktur cerdas, dan pengembangan talenta.

Ia menyatakan bahwa "BRICS yang lebih luas" harus memanfaatkan kekuatan yang berakar pada pasar negara berkembang dan terhubung dengan Global South, menjunjung tinggi keterbukaan dan kerja sama demi keuntungan bersama serta hasil yang saling menguntungkan (win-win), menjaga stabilitas dan kelancaran rantai industri serta pasokan, serta mendorong integrasi pasar.

Xi juga menekankan bahwa "BRICS yang lebih luas" perlu membangun inkubator inovasi, memodernisasi industri tradisional, mengembangkan industri baru yang sedang tumbuh, dan menyusun rencana berwawasan ke depan untuk industri masa depan, sehingga teknologi baru dapat menerangi jalan menuju kemakmuran bersama.

Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN) di sela-sela KTT tersebut, Vasilisa Kharasakhal, koresponden internasional untuk Sputnik Africa, menyoroti pentingnya kerja sama AI bagi pertumbuhan negara-negara anggota BRICS dan ekonomi dunia secara keseluruhan.

"Menurut saya, semua tema tersebut sangatlah penting. Ini merupakan topik utama bagi setiap negara di seluruh Global South. Secara lebih konkret, misalnya terkait kerja sama AI. Dalam Deklarasi New Delhi, terdapat banyak poin yang dikhususkan untuk teknologi dan kerja sama AI. Tentu saja, semua itu bermanfaat bagi seluruh benua Afrika, bagi pertumbuhan Global South, dan bagi dunia secara keseluruhan," ujarnya.

Memperingati hari jadinya yang ke-20 tahun ini, BRICS awalnya dibentuk oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok, kemudian berkembang dengan bergabungnya Afrika Selatan. Saat ini, blok tersebut telah berkembang mencakup 11 negara anggota dan 10 negara mitra.

Dalam pidatonya pada acara tersebut di hari Sabtu (12/9), Xi menyatakan bahwa BRICS kini telah menjadi platform kerja sama paling berpengaruh di dunia bagi pasar negara berkembang dan negara-negara berkembang.