Wuhan, Bharata Online - Ianushauskas Stanislav, seorang mahasiswa doktoral asal Rusia di Universitas Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok Tengah, memuji "pencapaian signifikan" Tiongkok dalam transformasi hijau setelah bertahun-tahun melakukan pengamatan langsung. Ia menyatakan bahwa Rusia dan Tiongkok memiliki potensi besar untuk kerja sama lingkungan yang lebih mendalam.
Berbicara dengan latar belakang ajang China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) tahun 2026 yang baru saja usai, dengan layanan lingkungan dan energi menjadi salah satu tema utama tahun ini, peneliti hukum lingkungan tersebut mengatakan bahwa pesatnya pembangunan Tiongkok kini semakin mengedepankan keberlanjutan.
"Setelah tinggal di Tiongkok selama lebih dari tujuh tahun, saya sangat terkesan dengan kecepatan pembangunan negara ini. Saya menyaksikan sendiri perubahan signifikan dalam hal infrastruktur, teknologi, transportasi umum, dan kehidupan perkotaan. Pada saat yang sama, saya melihat bahwa Tiongkok semakin memprioritaskan perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, hal yang sangat erat kaitannya dengan bidang akademis saya," ujar Stanislav.
Penelitiannya telah membawanya mengunjungi berbagai lokasi di sepanjang Sungai Yangtze di Provinsi Hubei, tempat ia mengamati langkah-langkah nyata tata kelola ekologis serta penerapan energi terbarukan berskala besar di Tiongkok. Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kerja sama bilateral yang efektif tidak boleh terbatas pada jalur pemerintah saja, melainkan harus mencakup institusi akademik, kota-kota, dan generasi muda.
"Pembukaan Konsulat Jenderal Rusia di Wuhan memiliki makna khusus bagi saya, karena hal itu menunjukkan bahwa kerja sama Tiongkok-Rusia terus semakin erat di tingkat daerah. Saya menyadari bahwa kerja sama tidak seharusnya hanya terjadi antarpemerintah. Universitas, lembaga penelitian, kota, perusahaan, dan generasi muda semuanya dapat berperan penting dalam memajukan hubungan jangka panjang Tiongkok-Rusia," kata Stanislav.
Mengingat kedua negara memiliki wilayah yang luas dan sumber daya alam yang melimpah, Stanislav melihat potensi besar dalam upaya bersama terkait perlindungan hutan, pengelolaan sumber daya air, dan teknologi hijau, bidang-bidang yang sejalan dengan fokus CIFTIS pada transisi rendah karbon, ekonomi sirkular, dan material baru yang canggih.
"Kedua negara memiliki wilayah yang luas dan sumber daya alam yang melimpah, sehingga menciptakan potensi kerja sama yang signifikan di berbagai bidang, termasuk perlindungan hutan, pengelolaan sumber daya air, energi terbarukan, dan hukum lingkungan. Kerja sama semacam itu dapat menciptakan peluang baru bagi generasi muda, peneliti, dan perusahaan, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan dan taraf hidup masyarakat sehari-hari," ujar Stanislav.
CIFTIS yang berlangsung selama lima hari resmi dibuka pada tanggal 9 September 2026, menarik partisipan dari 90 negara, wilayah, dan organisasi internasional, dengan lebih dari 1.800 perusahaan memamerkan produk layanan mereka di lokasi acara.