Jerman, Bharata Online - Tokoh politik dan pakar dari berbagai negara menyambut baik pernyataan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, pada KTT BRICS ke-18, dengan menyatakan bahwa pernyataan tersebut memberikan panduan yang jelas bagi pengembangan BRICS di masa depan serta memberikan momentum baru bagi upaya bersama untuk membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia.
Saat menghadiri KTT BRICS ke-18 selama dua hari di New Delhi, India, Xi menyatakan dalam Sesi I pada hari Sabtu (12/9) bahwa mekanisme kerja sama BRICS telah menjadi platform kerja sama paling berpengaruh di dunia bagi pasar negara berkembang dan negara-negara berkembang. Sementara dalam Sesi II pada hari Minggu (13/9), ia menyampaikan pidato penting berjudul "Memperkokoh Fondasi Kerja Sama BRICS dan Memperkuat Kekuatan Global Selatan".
"Presiden Xi tidak hanya menyerukan agar BRICS menjadi pelopor dalam mendorong inovasi, menjaga perdamaian dan stabilitas, mempromosikan pembelajaran antarperadaban, serta mereformasi dan memperbaiki tata kelola global, tetapi juga memperkenalkan lima inisiatif konkret. Hal-hal ini sangat selaras dengan empat inisiatif global Tiongkok dan meninggalkan kesan mendalam bagi saya," ujar Phinij Jarusombat, Mantan Wakil Perdana Menteri Thailand.
"Presiden Xi menekankan bahwa teknologi baru harus menerangi jalan menuju kemakmuran bersama. Kelima inisiatif mengenai AI sumber terbuka (open-source) yang inklusif, fasilitasi perdagangan dan investasi, kerja sama industri digital, kemitraan manufaktur cerdas, serta pengembangan talenta sains dan teknologi ini membentuk peta jalan praktis yang lengkap bagi kerja sama inovasi BRICS," kata Lim Wen Jye, Peneliti Senior di Institute of Strategic Analysis and Policy Research Malaysia.
"Usulan Presiden Xi Jinping agar negara-negara BRICS mengambil empat peran pelopor meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Secara khusus, beliau menyerukan upaya untuk membangun sistem tata kelola global yang lebih adil dan merata serta meningkatkan suara Global South. Saya yakin hal ini menunjukkan bagaimana empat inisiatif global Tiongkok diterjemahkan menjadi tindakan yang lebih konkret melalui operasional BRICS. Bagi negara-negara Global South, hal ini menyediakan platform yang lebih luas untuk berpartisipasi dalam tata kelola global dan mendorong pembangunan bersama," ujar Joseph Kimuli, Pakar Hubungan Internasional Uganda.
Para pakar juga menyoroti penekanan Xi pada keamanan global dan peran BRICS dalam mendorong dunia yang lebih adil, memajukan pembangunan positif, serta memastikan bahwa manfaat teknologi baru dapat dinikmati secara lebih luas.
"Visi keamanan global Xi Jinping didasarkan pada upaya menjunjung tinggi Piagam PBB serta prinsip non-intervensi oleh negara-negara besar terhadap urusan negara lain. Oleh karena itu, Tiongkok mengusung visi komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia; inilah pesan utama dari Xi Jinping dan, dalam cakupan yang lebih luas, merupakan inti kebijakan Tiongkok selama bertahun-tahun," ujar Rafael de Mora, Analis Geopolitik Spanyol.
"Dalam pidatonya hari ini, Presiden Xi memaparkan berbagai gagasan dan program baru tersebut. Hal ini menunjukkan peran mereka sebagai penggerak utama bagi berbagai perkembangan positif di dunia. BRICS akan mengambil peluang untuk memimpin langkah global ini; saya berharap—dan juga yakin—bahwa BRICS akan menjadi motor penggerak baru bagi dunia yang lebih adil, di mana kita semua dapat memperoleh manfaat dari teknologi-teknologi baru ini," jelas Stefan Loubichi, Pakar Kecerdasan Buatan Jerman.
BRICS awalnya dibentuk oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok, dengan Afrika Selatan bergabung kemudian. Sejak saat itu, blok ini telah berkembang hingga mencakup 11 negara anggota dan 10 negara mitra, serta menjadi kekuatan penting dalam mendorong tatanan dunia multipolar dan demokrasi yang lebih luas dalam hubungan internasional.