Beijing, Bharata Online - Seorang pakar teknologi mengatakan dorongan Tiongkok untuk kerja sama AI sumber terbuka (open-source) yang inklusif, termasuk pembentukan komunitas AI sumber terbuka bagi negara-negara BRICS, menawarkan jalur yang lebih realistis menuju kedaulatan AI bagi negara-negara Global Selatan.
Andy Mok, Peneliti Senior di Center for China and Globalization sekaligus penulis buku "The Innovation Machine: How China Creates and Adopts Technology through Governance", menyampaikan pandangannya mengenai bagaimana kerja sama AI sumber terbuka dapat memberikan manfaat bagi negara-negara Global Selatan dalam sebuah wawancara dengan China Global Television Network (CGTN) pada hari Senin (14/9).
"Ketika orang berbicara tentang sumber terbuka dan manfaatnya bagi Global Selatan, perhatian sering kali tertuju pada aspek biaya. Hal ini sangatlah penting karena model sumber terbuka terkadang bisa 90 persen lebih murah dibandingkan model berpemilik (proprietary) yang sebanding. Jadi, biaya memang sangat penting. Namun, menurut saya, hal yang pada akhirnya lebih krusial daripada itu adalah kedaulatan. Dengan mendorong komunitas sumber terbuka, Tiongkok menawarkan jalan yang lebih realistis menuju kedaulatan AI. Dengan demikian, negara-negara Global Selatan tidak perlu bergantung pada model AI dari satu negara tertentu yang tidak hanya bisa mematok harga sesuka hati, tetapi juga dapat mengendalikan akses terhadap model tersebut," ujar Mok.
Ia mencatat bahwa persoalan yang lebih mendasar terletak pada siapa yang mengendalikan harga model serta bagaimana model tersebut dikembangkan.
"Mereka juga bisa mengendalikan apa saja yang dimasukkan ke dalam model tersebut. Hal ini sangat vital jika kita memandang AI sebagai teknologi tujuan umum (general-purpose technology) yang setara dengan listrik. Teknologi ini akan menggerakkan segalanya, mulai dari rumah sakit, sekolah, dunia usaha, hingga pemerintahan itu sendiri. Jadi, menurut saya, poin penting di sini bukan sekadar keuntungan dari segi biaya, melainkan penawaran opsi yang lebih realistis untuk mewujudkan kedaulatan AI yang sesungguhnya bagi negara-negara di Global Selatan," ujarnya.
Mok juga menyatakan bahwa berbagai inisiatif Tiongkok dalam kerja sama industri digital, manufaktur cerdas, dan pelatihan insinyur sejalan dengan kebutuhan pembangunan negara-negara BRICS.
"Menurut saya, nilai sesungguhnya terletak pada sifatnya yang saling memperkuat; jika Anda menciptakan industri digital yang menyediakan ekosistem bagi manufaktur cerdas, hal itu memungkinkan negara dan perusahaan untuk tidak hanya melakukan produksi dengan biaya lebih rendah, tetapi juga dengan fleksibilitas lebih tinggi dan cara yang lebih ramah lingkungan. Tentu saja, hal ini menciptakan permintaan akan tenaga insinyur. Dan ketika jumlah insinyur bertambah, Anda dapat memperkuat industri digital atau ekosistem secara keseluruhan, yang pada gilirannya turut meningkatkan efektivitas sektor manufaktur cerdas itu sendiri. Jadi, sekali lagi, menurut saya pendekatan Tiongkok tidak hanya sekadar menawarkan nilai secara terpisah, tetapi juga memastikan berbagai komponen tersebut saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain," jelasnya.
Memperingati hari jadinya yang ke-20 tahun ini, BRICS awalnya dibentuk oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok, dengan Afrika Selatan bergabung kemudian. Sejak saat itu, blok tersebut telah berkembang hingga mencakup 11 negara anggota dan 10 negara mitra, serta menjadi kekuatan penting dalam mendorong dunia multipolar dan demokrasi yang lebih luas dalam hubungan internasional.