Beijing, Bharata Online - Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, melakukan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, atas permintaan pihak Prancis, membahas hubungan bilateral dan isu-isu internasional pada hari Senin (14/9).

Dalam pembicaraan tersebut, Wang, yang juga merupakan anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, menyatakan bahwa di bawah arahan strategis kedua kepala negara, hubungan Tiongkok-Prancis secara umum mempertahankan dinamika perkembangan yang stabil.

Menghadapi lanskap internasional yang kompleks dan penuh gejolak, Tiongkok dan Prancis, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, perlu memperkuat komunikasi strategis serta bersama-sama mengatasi berbagai risiko dan tantangan, ujar Wang.

Tiongkok secara aktif mendukung Prancis dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai presiden bergilir Dewan Keamanan PBB bulan ini dan menantikan upaya Prancis untuk memastikan dewan tersebut menjalankan perannya sebagaimana mestinya, kata Wang.

Wang menegaskan bahwa prinsip Satu Tiongkok merupakan landasan politik bagi kemitraan strategis komprehensif Tiongkok-Prancis. Ia berharap pihak Prancis akan menjunjung tinggi prinsip Satu Tiongkok melalui tindakan nyata, menahan diri dari segala bentuk interaksi resmi dengan wilayah Taiwan milik Tiongkok, serta tidak mengirimkan sinyal yang keliru kepada kekuatan "kemerdekaan Taiwan".

Tiongkok dan Uni Eropa (UE) harus tetap berkomitmen pada kemitraan mereka, mengupayakan kerja sama yang saling menguntungkan, menjaga keterbukaan satu sama lain, menyelesaikan gesekan ekonomi dan perdagangan saat ini melalui dialog yang konstruktif, serta menghindari eskalasi konfrontasi, ujar Wang.

Proteksionisme tidak akan meningkatkan daya saing Eropa, melainkan justru akan merugikan konsumen dengan menghilangkan akses terhadap produk berkualitas tinggi dan terjangkau, memicu inflasi, serta menghambat proses transisi hijau, tambahnya.

Seraya mencatat bahwa Tiongkok merupakan salah satu pasar terbesar di dunia dan bahwa pembangunan Tiongkok menghadirkan peluang, bukan tantangan, bagi UE, Wang berharap Prancis, sebagai negara besar dengan visi strategis, akan mengambil pendekatan pragmatis dan rasional dalam mendorong UE untuk bekerja sama dengan Tiongkok ke arah yang sama, memandang pembangunan Tiongkok secara lebih akurat, serta memainkan peran positif dalam memajukan stabilitas hubungan Tiongkok-UE.

Sementara itu, Barrot menyatakan bahwa dalam satu tahun sejak kunjungan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Tiongkok, Prancis dan Tiongkok telah menjunjung tinggi "Semangat Dujiangyan" yang mengedepankan interaksi dan integrasi, mencari titik temu sembari menghormati perbedaan, serta memelihara dialog, sehingga hubungan bilateral secara umum tetap mempertahankan momentum perkembangannya. Barrot menyatakan bahwa Prancis memegang teguh kebijakan Satu Tiongkok.

Menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan dalam hubungan ekonomi dan perdagangan antara Uni Eropa dan Tiongkok, Prancis siap mendorong interaksi yang konstruktif antara kedua pihak guna mencari solusi, ujar Barrot.

Kedua belah pihak juga bertukar pandangan mengenai isu-isu yang menjadi perhatian bersama, termasuk situasi di Iran dan krisis Ukraina. Wang memaparkan posisi berprinsip Tiongkok kepada Barrot dan menyampaikan bahwa Presiden Tiongkok, Xi Jinping, telah mengajukan usulan empat poin untuk membangun arsitektur keamanan baru di Timur Tengah, yang bertujuan menyediakan barang publik global bagi perdamaian dan stabilitas kawasan serta memainkan peran yang konstruktif.