Tiongkok, Bharata Online - Film antiperang Once Upon a Time in the Middle East mencerminkan filosofi diplomasi Tiongkok yang memprioritaskan perdamaian, pembangunan, hidup berdampingan, dan kesejahteraan rakyat biasa dalam agenda internasional, menurut sebuah komentar dari China Media Group (CMG) yang diterbitkan pada hari Minggu (6/9).
Film tersebut, yang dirilis di bioskop-bioskop daratan Tiongkok pada 11 Agustus 2026, menceritakan kisah seorang pria Tiongkok yang bekerja sebagai koki di sebuah restoran Tiongkok di Timur Tengah pada tahun 2000-an ketika perang pecah. Film ini telah mendapatkan pujian luas melalui promosi dari mulut ke mulut yang solid dan kinerja box office yang kuat.
Berikut adalah versi bahasa Indonesia yang telah diedit dari komentar tersebut:
The Economist, dalam sebuah komentar baru-baru ini tentang film Tiongkok Once Upon a Time in the Middle East, menyebut diplomasi Tiongkok sebagai "diplomasi restoran naga". Ini adalah istilah yang mengungkapkan, lebih banyak tentang asumsi orang-orang yang menciptakannya daripada tentang diplomasi Tiongkok itu sendiri. Film ini menggambarkan hubungan luar negeri Tiongkok sebagai sesuatu yang didorong oleh kepentingan komersial dan kurang memiliki "kedalaman" ideologis yang sering dikaitkan dengan politik, berdasarkan tema-tema sederhana film tersebut, yaitu "makan enak" dan "mendidik anak dengan baik".
Interpretasi seperti itu keliru menganggap pragmatisme sebagai kedangkalan, menyamakan pembangunan dengan merkantilisme, dan memperlakukan aspirasi dasar masyarakat biasa sebagai bukti kurangnya cita-cita politik. Namun, pertanyaan sebenarnya yang diangkat oleh film ini bukanlah apakah makanan dapat menggantikan diplomasi, melainkan: Untuk apa sebenarnya perdamaian dan pembangunan? Apa tujuan kerja sama internasional? Ini adalah beberapa pertanyaan paling mendasar dalam politik internasional.
Kosakata yang kompleks bukanlah ukuran kedalaman diplomasi
Tiongkok memang sangat mementingkan pembangunan ekonomi. Bagi negara yang mengalami kemiskinan berkepanjangan sebelum bertransformasi melalui upaya berkelanjutan menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia, hal ini tidaklah mengejutkan. Pengalaman itu telah membentuk pemahaman khas Tiongkok tentang hubungan internasional: Pembangunan bukan hanya tentang indikator ekonomi, tetapi juga fondasi penting bagi stabilitas sosial, martabat manusia, dan kemerdekaan nasional.
Bagi banyak negara berkembang, kekhawatiran yang paling mendesak bukanlah teori politik abstrak, melainkan apakah rumah mereka memiliki listrik, anak-anak mereka dapat bersekolah, petani dapat menjual hasil panen mereka, dan rumah sakit berfungsi dengan baik. Kekhawatiran tersebut juga menyangkut akses masyarakat terhadap air bersih dan apakah jalan dapat diperbaiki setelah bencana. Menganggap kekhawatiran ini kurang "mendalam" dibandingkan perdebatan tentang model politik itu sendiri merupakan penilaian politik yang dangkal.
Prinsip-prinsip yang ditekankan oleh diplomasi Tiongkok, termasuk saling menghormati, kerja sama yang saling menguntungkan, tidak campur tangan dalam urusan internal, pembangunan, dan kerja sama yang saling menguntungkan, bukanlah tanpa substansi politik. Sebaliknya, Inisiatif Keamanan Global Tiongkok menganjurkan visi keamanan yang umum, komprehensif, kooperatif, dan berkelanjutan, serta menyerukan "dialog daripada konfrontasi, kemitraan daripada aliansi, dan hasil yang saling menguntungkan daripada hasil yang saling merugikan." Ini bukanlah pendekatan komersial terhadap urusan internasional, tetapi pemahaman yang berbeda tentang bagaimana tatanan internasional seharusnya bekerja.
Bagaimana 'makan dengan baik' dapat menjadi pernyataan politik yang mendalam
Justru inilah yang membuat film ini layak untuk diteliti. Once Upon a Time in the Middle East menempatkan seorang koki Tionghoa di lingkungan Timur Tengah yang hancur akibat perang. Alih-alih menceritakan kisahnya dari perspektif presiden, jenderal, atau diplomat, film ini berfokus pada orang-orang biasa yang berusaha menjaga restoran tetap buka dan sekadar bertahan hidup. Pilihan ini mungkin tampak sederhana dari perspektif artistik, tetapi memiliki makna yang mendalam.
Penekanan berulang film ini pada "makan enak" mengingatkan kita bahwa tujuan utama politik bukanlah untuk menghasilkan terminologi strategis yang mengesankan, tetapi untuk menciptakan tatanan sosial dengan orang-orang biasa dapat menjalani kehidupan normal.
Perbedaan ini penting karena politik internasional modern sering menempatkan bahasa kekuasaan di atas pengalaman sehari-hari masyarakat. Kemenangan militer mungkin mengubah peta, tetapi belum tentu memberi makan keluarga. Aliansi geopolitik mungkin melayani kepentingan para ahli strategi, tetapi belum tentu membuat seorang anak lebih aman. Sanksi mungkin menunjukkan tekad politik, tetapi tidak secara otomatis mengembalikan rumah sakit ke operasi normal.
Oleh karena itu, sebuah restoran bukanlah sekadar restoran. Hal ini menjadi metafora untuk visi lain tentang hubungan internasional: Dunia bukanlah papan catur negara dan kekuasaan, melainkan meja bersama tempat umat manusia harus duduk bersama dan menghadapi masa depan bersama.
Diplomasi pragmatis tetap dapat berprinsip teguh.
Latar lintas budaya dalam film tersebut menyoroti aspek lain dari diplomasi Tiongkok: penghormatan terhadap budaya yang berbeda. Seorang koki tidak bisa begitu saja memindahkan menu yang familier tanpa perubahan ke lingkungan yang asing. Ketika bahan, cita rasa, dan adat istiadat berbeda, keberhasilan suatu hidangan sering kali bergantung pada adaptasi, bukan pemaksaan. Ini adalah sudut pandang yang bermanfaat untuk melihat hubungan internasional.
Diplomasi Tiongkok tidak bertujuan mengubah setiap negara menjadi Tiongkok, dan tidak pula berasumsi bahwa jalur pembangunan Tiongkok dapat ditiru begitu saja di tempat lain. Sebaliknya, Tiongkok menekankan bahwa setiap negara harus memilih jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasionalnya masing-masing. Dari perspektif ini, penekanan Tiongkok pada kedaulatan dan prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri tidak bisa disederhanakan hanya sebagai pertimbangan transaksional semata. Hal ini mencerminkan kepekaan historis Tiongkok terhadap hubungan yang tidak setara antarnegara.
Pada akhirnya, diplomasi Tiongkok harus dinilai berdasarkan dampaknya di dunia nyata. Kerja sama *Belt and Road* terus meningkatkan infrastruktur, transportasi, kelistrikan, pasokan air, sekolah, fasilitas kesehatan, dan konektivitas di negara-negara peserta, serta mengubah kehidupan ratusan juta orang biasa secara mendalam. Tiongkok juga merupakan kontributor terbesar personel penjaga perdamaian di antara lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Hal ini penting karena perdamaian tidak dapat dijaga hanya melalui pernyataan diplomatik.
Dalam pengertian ini, membuat batasan kaku antara "diplomasi pembangunan" dan "diplomasi keamanan" merupakan pembedaan yang dibuat-buat. Pembangunan dapat memperkuat keamanan, sementara ketidakamanan dapat menghancurkan pembangunan. Pemikiran diplomatik Tiongkok semakin menekankan keterkaitan intrinsik antara keduanya.
Mengapa setiap cerita harus dinilai berdasarkan tolok ukur Barat?
Mungkin aspek yang paling menonjol dari komentar The Economist adalah asumsinya bahwa film Tiongkok harus dievaluasi menggunakan kerangka budaya Barat. Jika Once Upon a Time in the Middle East tidak mengikuti konvensi naratif yang lazim dalam film perang Barat, hal itu tidak menjadikannya lebih rendah secara artistik maupun intelektual. Faktanya, keputusan untuk tidak menampilkan tokoh utama sebagai pahlawan bersenjata dalam pengertian Barat yang konvensional justru bisa menjadi salah satu pernyataan terpenting dari film tersebut.
Seorang pahlawan tidak harus selalu memenangkan pertempuran. Terkadang, yang terpenting adalah menjaga keselamatan nyawa orang lain. Itu adalah gagasan sinematik yang secara fundamental berbeda. Apakah sebuah film mendapatkan pengakuan internasional seharusnya tidak bergantung pada apakah film itu memenangkan penghargaan dari institusi Hollywood. Sebuah cerita tidak lantas memiliki makna universal hanya karena organisasi Barat menyatakan bahwa cerita tersebut memiliki nilai universal. Sebuah gagasan juga tidak serta-merta menjadi mendalam hanya karena diungkapkan melalui terminologi geopolitik yang canggih.
Oleh karena itu, signifikansi Once Upon a Time in the Middle East melampaui film itu sendiri. Film ini menyajikan jendela budaya yang memungkinkan dunia melihat visi Tiongkok yang lebih luas mengenai hubungan internasional—visi yang berupaya memberikan bobot lebih besar pada perdamaian, pembangunan, hidup berdampingan, dan kesejahteraan masyarakat umum dalam agenda internasional.
Hal ini tidak berarti bahwa diplomasi Tiongkok sepenuhnya bebas dari pertimbangan kepentingan nasional, ataupun berarti bahwa diplomasi Tiongkok patut diromantisasi. Namun, adanya kepentingan tidaklah membuat kerja sama menjadi tidak bermakna. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah: dapatkah kepentingan nasional diperjuangkan melalui kerja sama alih-alih konfrontasi? Dapatkah pembangunan dinikmati bersama alih-alih dimonopoli? Dan dapatkah keamanan dicapai tanpa mengorbankan keamanan pihak lain?
Inilah bagian dari makna mendalam di balik usulan Tiongkok untuk membangun komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia. Dunia tidak membutuhkan hierarki peradaban yang mendikte semua orang mengenai apa yang disebut sebagai politik yang "mendalam". Yang sesungguhnya dibutuhkan dunia adalah jawaban praktis atas persoalan perang, kemiskinan, krisis iklim, ketahanan pangan, penyakit, dan fragmentasi ekonomi.
Jika The Economist mencetuskan istilah "diplomasi restoran naga" sebagai bentuk ejekan, istilah tersebut pada akhirnya—dan tanpa disengaja—mungkin justru menggambarkan gagasan diplomatik yang penting: alih-alih bertanya "Siapa yang harus duduk di kursi utama meja perundingan?", pertanyaan yang lebih bermakna adalah, "Bisakah kita memastikan bahwa setiap orang mendapatkan tempat duduk di meja tersebut?"
Sebuah restoran yang tetap buka di tengah berkecamuknya perang bisa menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap kekerasan. Berbagi hidangan lintas budaya bisa menjadi langkah kecil menuju saling pengertian yang lebih baik. Dan seorang anak yang dapat tumbuh dalam keadaan aman mungkin merupakan tolok ukur perdamaian yang paling mendasar. Hal-hal ini mungkin tampak kurang megah bagi sebagian komentator asing, namun apa yang bisa lebih mendekati makna sesungguhnya dari keberhasilan diplomasi?