Rusia, Bharata Online - Para pengamat dari berbagai negara menaruh harapan besar terhadap Tiongkok saat memegang presidensi BRICS tahun depan. Mereka menilai pengalaman Tiongkok dalam pengembangan industri, teknologi, dan kerja sama internasional dapat memberikan momentum baru bagi kerja sama BRICS.
Saat berpidato dalam KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, pada hari Sabtu (12/9), Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mengumumkan bahwa Tiongkok akan mengambil alih posisi ketua bergilir BRICS dan menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-19 tahun depan.
Mantan Duta Besar Chili untuk Tiongkok, Fernando Reyes Matta, dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), menyatakan bahwa Tiongkok siap memimpin kelompok ini memasuki era yang ditandai dengan tantangan dan perubahan yang lebih besar. Ia juga mengungkapkan keyakinannya bahwa berbagai inisiatif Tiongkok akan membantu memanfaatkan teknologi baru serta mendorong pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang.
"Tiongkok telah memimpin BRICS sebanyak tiga kali pada seperempat pertama abad ke-21. Kini, tiba gilirannya untuk membuka pintu menuju seperempat kedua abad ke-21. Periode ini penuh dengan tantangan yang lebih besar, perubahan mendalam, serta nilai-nilai solidaritas global yang telah terakumulasi, namun kini ditempatkan dalam era baru di mana dampak teknologi fundamental, seperti kecerdasan buatan, teknologi hijau, dan lainnya, menuntut adanya lompatan kemajuan. Saya melihat adanya interaksi yang sangat kuat antara Global South (negara-negara berkembang), kepemimpinan Tiongkok, usulan perubahan menuju masa depan, serta percepatan bersama demi pertumbuhan kolektif," ujarnya.
Ekaterina Zaklyazminskaya, Kepala Pusat Politik Dunia dan Analisis Strategis di Institut Tiongkok dan Asia Modern di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, mengatakan bahwa pengalaman pembangunan Tiongkok yang luas dapat membantu memajukan serta memastikan keberlanjutan pelaksanaan agenda BRICS.
"Tiongkok akan memegang presidensi BRICS tahun depan, dan terdapat harapan besar terhadap kepemimpinannya. Sebagai ekonomi terbesar di antara negara-negara BRICS, Tiongkok memiliki pengalaman luas dalam pengembangan industri, investasi dan kerja sama lintas batas, serta pelaksanaan proyek infrastruktur berskala besar. Tiongkok berada pada posisi yang tepat untuk membantu anggota BRICS memajukan agenda kelompok serta memastikan inisiatif-inisiatif terkait terus berjalan dan terlaksana," ungkapnya.
Zaklyazminskaya mengatakan bahwa inisiatif industrialisasi baru yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI), yang diusulkan oleh Xi, akan membantu negara-negara BRICS merintis jalur industrialisasi baru dan menguasai pencapaian mutakhir di bidang AI.
"Pada saat yang sama, kami berharap dapat melihat pengembangan dan penerapan lebih lanjut dari inisiatif-inisiatif yang diusulkan oleh Tiongkok di bidang kecerdasan buatan. Mekanisme kerja sama dalam kerangka BRICS juga diharapkan dapat ditingkatkan lebih jauh. BRICS berkomitmen untuk mengupayakan kerja sama yang lebih praktis, dan justru di sinilah Tiongkok dapat memberikan dukungan kepada para mitranya," ujar Zaklyazminskaya.
Akademisi asal Rusia tersebut juga menyatakan harapannya agar Tiongkok terus memberikan dukungan nyata kepada negara-negara berkembang lainnya melalui berbagai platform multilateral.
"Tiongkok tidak hanya terlibat dalam mekanisme BRICS, tetapi juga melalui platform kerja sama internasional lainnya yang melibatkan Global South, tempat sebagian besar negara di dunia terwakili. Melalui keterlibatan ini, Tiongkok telah mengumpulkan pengalaman praktis yang luas. Kami berharap Tiongkok dapat memanfaatkan pengalaman tersebut untuk memberikan dukungan serta bantuan yang nyata dan efektif bagi negara-negara di seluruh dunia," tuturnya.
BRICS awalnya dibentuk oleh Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok, kemudian berkembang dengan bergabungnya Afrika Selatan. Saat ini, blok tersebut telah berkembang menjadi 11 negara anggota dan 10 negara mitra, serta menjadi kekuatan pendorong bagi terwujudnya dunia multipolar dan demokrasi yang lebih luas dalam hubungan internasional.