Beijing, Bharata Online - Babak final lomba lompat tinggi tanpa awalan (standing high jump) dalam ajang World Humanoid Robot Games ke-2 berakhir pada hari Selasa (25/8) di National Speed ​​Skating Oval Beijing,yang lebih dikenal sebagai "Ice Ribbon", sebuah ajang yang mendorong batas kemampuan mobilitas robot sekaligus membuka jalan bagi penerapan yang lebih luas di dunia nyata.

Babak final ini menetapkan standar yang ketat terkait performa gerakan keseluruhan dari mesin-mesin yang bertanding.

Setiap tahapan lompatan, mulai dari tolakan dua kaki saat posisi diam, pengendalian postur di udara, hingga pendaratan yang stabil, menuntut daya yang kuat dari sistem kaki, pengaturan keseimbangan yang presisi, serta peredaman benturan yang efektif. Hal ini menuntut spesifikasi tinggi baik pada perangkat keras mekanis maupun algoritma kendalinya.

Berdasarkan peraturan resmi, setiap robot diberi waktu 10 menit untuk melakukan tiga kali percobaan, dengan skor sah tertinggi yang diambil sebagai hasil akhir.

Lompatan yang sah harus dilakukan di dalam area kompetisi berukuran 3×3 meter. Robot harus melakukan tolakan dari posisi berdiri dan mendarat dengan mulus di dalam area tersebut.

Skor dihitung berdasarkan ketinggian vertikal antara titik terendah tubuh robot dan permukaan tanah pada puncak lompatan, sementara gerakan akrobatik berupa salto dilarang keras.

Kamera profesional yang dipasang di sekeliling arena merekam data secara waktu nyata (real-time) untuk memastikan penilaian yang akurat dan adil.

Hampir 20 robot berhasil lolos ke babak final. Setelah melalui rangkaian kompetisi yang sengit, Tim Tianzhuo dari Beijing Humanoid Robot Innovation Center berhasil meraih posisi puncak dengan lompatan setinggi 3,4 meter.

Para peneliti yang berpartisipasi menyatakan bahwa ajang ini meningkatkan standar teknis bagi algoritma yang mengatur gaya dan keseimbangan anggota tubuh bagian bawah, serta menjadi katalis penting untuk memperluas cakupan penerapan robot humanoid dalam skenario dunia nyata.

"Ke depannya, kami bertujuan mengembangkan aplikasi untuk operasi penyelamatan berisiko tinggi dan penanganan muatan berat, guna membantu manusia menghemat waktu dan tenaga," ujar Wang Jiajun, Pakar Algoritma Kendali Gerak di Beijing Humanoid Robot Innovation Center.