Beijing, Bharata Online - Tiongkok berkomitmen pada strategi jangka panjang dan stabil untuk membangun negara tersebut menjadi kekuatan besar di bidang sains dan teknologi pada tahun 2035. Langkah ini telah meletakkan landasan yang kokoh untuk mendorong semakin banyak ilmuwan papan atas internasional yang memiliki ikatan dengan Tiongkok agar kembali guna melanjutkan penelitian mereka, ujar Martin Hairer, peraih Fields Medal.
Sebagai anggota asing Chinese Academy of Sciences (Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok), Hairer telah lama menjalin kerja sama dengan komunitas akademis di Tiongkok, dan selama masa itu pula ia menyaksikan perkembangan sains dan teknologi Tiongkok dari tahun ke tahun.
Hairer berada di Beijing untuk menghadiri International Congress of Basic Science (Kongres Internasional Sains Dasar) 2026 yang berlangsung selama 13 hari dan dibuka pada hari Minggu (16/8). Acara ini bertujuan menampilkan kemajuan dalam bidang matematika, fisika, ilmu informasi dan teknik, serta bidang sains dasar lainnya.
Dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun terakhir, penelitian matematika di Tiongkok telah mencapai lompatan kualitas yang signifikan, ungkapnya dalam wawancara eksklusif baru-baru ini dengan China Media Group (CMG).
"Menurut saya, selama sekitar satu dekade terakhir, pemerintah Tiongkok tentu saja melakukan upaya besar untuk menarik kembali orang-orang ini ke Tiongkok, dan upaya tersebut berhasil pada sebagian dari mereka—bahkan bisa dibilang cukup banyak. Kini juga semakin banyak ilmuwan muda Tiongkok—generasi baru peneliti Tiongkok—yang misalnya menjalani program pascadoktoral di luar negeri lalu kembali ke Tiongkok untuk menempati posisi permanen. Fenomena ini bahkan terlihat pada matematikawan yang sangat hebat. Jadi, menurut saya, inilah hal yang benar-benar telah berubah dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.
Sejak Kongres Nasional ke-18 Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada tahun 2012, Komite Sentral PKT telah secara gencar menerapkan strategi pembangunan yang didorong oleh inovasi, dengan menetapkan tujuan untuk menjadikan Tiongkok sebagai kekuatan besar di bidang sains dan teknologi pada tahun 2035.
Pada saat yang sama, pihak berwenang terus memperdalam reformasi sistem sains dan teknologi, membangkitkan semangat serta kreativitas para tenaga ahli di bidang tersebut, serta mendorong kemandirian dan kekuatan sains dan teknologi, yang pada akhirnya menghasilkan pencapaian serta transformasi bersejarah di sektor ini.
Hairer menyatakan bahwa strategi tersebut telah memberikan dukungan yang kuat bagi penelitian ilmiah di Tiongkok.
"Secara umum, para ilmuwan membutuhkan kondisi yang baik untuk dapat melakukan penelitian mereka. Hal-hal yang dianggap penting bergantung pada jenis bidang sains yang digeluti. Misalnya, jika Anda berkecimpung dalam sains eksperimental, tentu Anda membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk laboratorium yang besar. Di bidang matematika, secara umum, sumber daya yang dibutuhkan mungkin tidak sebesar itu, namun para ilmuwan tetap memerlukan dukungan minimal untuk bisa bepergian, dan kemampuan untuk berdiskusi dengan rekan sejawat merupakan hal yang sangat penting," ujarnya.
"Namun, satu hal lain yang dinilai penting oleh banyak orang adalah stabilitas. Orang-orang cenderung ingin tinggal di tempat di mana mereka memiliki gambaran jelas mengenai masa depan mereka dan tidak perlu khawatir akan terjadinya pergolakan atau revolusi dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mereka yang memiliki ikatan dengan Tiongkok memilih untuk kembali; mereka melihat lingkungan yang lebih stabil serta adanya komitmen jangka panjang yang lebih jelas dalam mendukung sains. Hal ini berbeda dengan situasi ketika seseorang harus khawatir bahwa pendanaan sains bisa tiba-tiba dipangkas dalam dua tahun ke depan hanya karena adanya gagasan-gagasan aneh dari pihak tertentu. Jadi, menurut saya, langkah pemerintah Tiongkok untuk menunjukkan komitmen jangka panjang—guna menjamin tingkat stabilitas tertentu bagi mereka yang kembali—merupakan strategi yang sangat cerdas," lanjutnya.
Hairer juga menyampaikan pandangannya mengenai ekosistem akademik di Tiongkok.
"Dalam beberapa tahun terakhir, sungguh mengesankan melihat besarnya sumber daya yang dikucurkan pemerintah untuk bidang matematika, dan juga untuk sains dasar secara umum. Salah satu hal yang juga sangat mengesankan adalah kebangkitan kualitas riset—yang sejalan dengan kembalinya para ilmuwan Tiongkok yang hebat ke tanah air mereka. Kini, kita melihat adanya ilmuwan-ilmuwan muda yang sangat kompeten yang memilih untuk menempuh studi doktoral (PhD) dan menyelesaikan seluruh pendidikan ilmiah mereka di Tiongkok. Jadi, menurut saya, hal itu sungguh luar biasa," ungkapnya.
Fields Medal adalah penghargaan matematika internasional bergengsi yang dianugerahkan setiap empat tahun sekali kepada dua hingga empat peneliti muda berusia di bawah 40 tahun, sebagai bentuk pengakuan atas pencapaian matematika mereka yang luar biasa dalam karya yang telah dihasilkan serta potensi pencapaian mereka di masa depan.