Hangzhou, Bharata Online - Kepala penelitian pertanian terkemuka Papua Nugini menyoroti potensi pengalaman pembangunan pertanian Tiongkok untuk memberikan manfaat bagi negaranya dan negara-negara kepulauan Pasifik lainnya.
Nelson Simbiken, Direktur Jenderal Institut Penelitian Pertanian Nasional Papua Nugini, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Pertemuan Tingkat Menteri Ketahanan Pangan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) ke-11 pada hari Selasa (25/8) di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok Timur, bersama para delegasi global lainnya.
Sebagai acara unggulan dalam rangkaian "Tahun Tiongkok" APEC dan salah satu pertemuan multilateral tingkat tertinggi di kawasan tersebut pada tahun 2026, pertemuan ini menghadirkan sekitar 200 delegasi dari 21 ekonomi anggota APEC, Sekretariat APEC, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB, serta berbagai organisasi internasional lainnya.
Diskusi difokuskan pada isu-isu utama, termasuk pembangunan pertanian dan pedesaan, transformasi digital, serta tantangan ketahanan pangan.
Dalam wawancara dengan CGTN, Simbiken mengatakan bahwa pengalaman Tiongkok terkait indikasi geografis dan keberlanjutan lingkungan dapat diterapkan di negaranya.
"Saya cukup yakin bahwa program keberlanjutan lingkungan berbasis indikasi geografis (GI) yang telah didukung di Tiongkok dapat diterapkan di Papua Nugini. Kami memanfaatkan program dan sistem tersebut untuk menyusun proses perencanaan ekosistem yang tangguh, sehingga kami mampu memantau lingkungan serta sistem cuaca. Kami memantau kelangsungan hidup ekosistem, tingkat kerusakan yang terjadi, dan bagaimana kami dapat memanfaatkan data cuaca yang sangat rinci tersebut," ujarnya.
"Pada saat yang sama, sistem data agronomis akan menjadi masukan bagi algoritma yang memungkinkan penggunaan kecerdasan buatan (AI), khususnya pemetaan, termasuk pemetaan tanah digital, sehingga kami dapat mengidentifikasi sistem agro-ekologis yang mendukung produksi melalui sistem lingkungan indikasi geografis (GI) untuk pasar premium," lanjutnya.
Simbiken juga mencatat bahwa APEC dapat memainkan peran penting dalam membantu berbagai ekonomi mengembangkan sektor pertanian dan komunitas pedesaan yang lebih kuat serta berkelanjutan, dengan mengambil pelajaran dari jalur pembangunan pedesaan Tiongkok.
"Kita melihat contoh Tiongkok. Ekonomi Tiongkok sangat berbasis pedesaan dan masih merupakan ekonomi yang berkembang dari tatanan pedesaan tersebut. Ini adalah proses dari bawah ke atas (bottom-up) untuk mengembangkan sistem pangan dengan baik, serta memanfaatkan pengetahuan dan pelajaran yang bisa kita petik dari kebijakan mereka yang efektif, baik terkait mekanisasi pertanian pedesaan, sistem benih pertanian yang unggul, maupun penyebaran informasi di kalangan komunitas petani," ujar Simbiken.
"Pelajaran tersebut juga dapat diterapkan di Papua Nugini dan kawasan Pasifik yang lebih luas, karena masyarakat Kepulauan Pasifik pun dapat memperoleh manfaat dari interaksi yang kita jalin. Saat ini, negara kami sudah memasuki tahap ketika kami terhubung dengan sistem GIS (Sistem Informasi Geografis) serta bekerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian khusus yang bermitra dengan kami di Papua Nugini," tambahnya.