Beijing, Bharata Online - Tiongkok dan Amerika Serikat menggelar Dialog Track 1.5 ketiga di Beijing pada hari Selasa (25/8).
Kedua belah pihak melakukan pertukaran pandangan yang terus terang, mendalam, dan konstruktif, serta menegaskan kembali bahwa hubungan Tiongkok-AS memiliki arti vital dan saat ini berada pada titik krusial.
Kedua pihak menyatakan perlunya bersama-sama melaksanakan konsensus penting yang dicapai oleh kedua kepala negara, mengembangkan landasan baru bagi hubungan konstruktif Tiongkok-AS yang berlandaskan stabilitas strategis, memperkuat komunikasi dan dialog, serta meningkatkan rasa saling percaya di bidang politik.
"Saat ini, instansi terkait dari kedua belah pihak bergerak mengikuti arah yang ditetapkan oleh kedua kepala negara, menjaga komunikasi di berbagai bidang seperti ekonomi dan perdagangan, diplomasi, urusan militer, pemberantasan narkoba, penegakan hukum, kecerdasan buatan (AI), dan pertukaran antarwarga, guna memberikan stabilitas bagi perkembangan kedua negara dengan harapan yang positif. Tahun 2026 merupakan tahun penting bagi hubungan Tiongkok-AS. Kami berharap semua pihak menunjukkan visi strategis dan secara aktif menjajaki cara yang tepat bagi kedua negara besar untuk hidup berdampingan secara harmonis," ujar Liu Haixing, Kepala Departemen Internasional Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok (PKT).
"Presiden Xi mengemukakan gagasan mengenai hubungan konstruktif yang berlandaskan stabilitas strategis ini, dan Presiden Trump mendukung gagasan tersebut. Hal itu akan menjadi pedoman sekaligus kerangka acuan bagi hubungan kedua negara. Bagi kelompok yang hadir di sini, gagasan tersebut sangat masuk akal. Terdapat banyak peluang untuk mencapai kemajuan, dan saya optimistis bahwa kemajuan akan terwujud," kata John L. Thornton, Ketua Bersama Dewan Pembina Asia Society.
"Saya ingin meyakini bahwa pertemuan seperti yang kita adakan hari ini—dialog Track 1.5—merupakan sebuah indikator. Jika Anda menyimak percakapan di sini, orang-orang kini sedang mencari berbagai kegiatan yang selaras dengan semangat tersebut," ujar Craig Mundie, Ketua Bersama AS untuk Dialog Track Two AI Tiongkok-AS.
Para perwakilan juga menyerukan peningkatan pertukaran dan kerja sama di berbagai bidang seperti ekonomi dan perdagangan, hubungan antarwarga dan budaya, kerja sama tingkat daerah (subnasional), kesehatan, kecerdasan buatan, serta ketahanan pangan, guna menangani perbedaan secara tepat dan bersama-sama menghadapi tantangan global.
"Dunia usaha senantiasa menjadi bagian sentral dalam hubungan AS-Tiongkok. Kita telah saling bertukar teknologi dan tumbuh bersama. Saya berharap kita dapat membuat kemajuan untuk memperdalam hubungan bisnis, alih-alih melakukan pemisahan (decoupling). Pemisahan hanya akan membuat kedua pihak lebih miskin, dan tak satu pun pihak yang mampu menanggung akibat dari pemisahan tersebut," ujar Craig Allen, Eks Presiden U.S.-China Business Council (USCBC).
"Sebagai contoh, belakangan ini kita melihat banyak kasus di mana AI keluar dari batasan uji coba (sandbox) yang telah ditetapkan. Hal ini sangat mengkhawatirkan. Ini merupakan isu krusial di masa kini, dan baik Tiongkok maupun Amerika Serikat perlu mengambil peran kepemimpinan demi perlindungan umat manusia. Jika Tiongkok dan Amerika Serikat saling bersaing secara destruktif terkait AI, maka umat manusia berpotensi menghadapi masalah besar. Oleh karena itu, menurut saya ini adalah isu krusial yang menuntut kerja sama kita," kata Christopher Nixon Cox, Anggota Dewan Direksi Richard Nixon Foundation.
Dialog ini diselenggarakan bersama oleh Departemen Internasional Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Asia Society Amerika Serikat.
Sekitar 40 perwakilan dari Tiongkok dan AS berpartisipasi dalam dialog tersebut, termasuk pejabat dari instansi pemerintah Tiongkok terkait, pemerintah daerah, lembaga pemikir (think tank), dan universitas, serta tokoh-tokoh dari komunitas strategis dan dunia usaha AS.