Moskow, Bharata Online - Para pengamat global telah menyatakan optimisme mengenai masa depan mekanisme kerja sama BRICS, seraya berharap Tiongkok akan terus memandu kerja sama BRICS yang lebih luas dalam memperjuangkan kepentingan bersama negara-negara Global South serta berkontribusi pada perdamaian dan pembangunan dunia.

Tahun ini menandai peringatan 20 tahun mekanisme kerja sama BRICS, yang telah menjadi platform kerja sama paling berpengaruh di antara pasar negara berkembang dan negara-negara berkembang di dunia saat ini.

Para ahli mencatat bahwa Tiongkok telah memainkan peran kunci dalam proses ini, sekaligus menyoroti pentingnya serangkaian inisiatif global utama yang diusulkan oleh Presiden Tiongkok, Xi Jinping.

"Menurut saya, peran Tiongkok sangat luar biasa mengingat kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya. Inisiatif Tata Kelola Global (Global Governance Initiative), di tengah gejolak yang sedang terjadi dalam sistem internasional, berfungsi sebagai salah satu penstabil politik internasional saat ini. Negara-negara Global South, khususnya negara berkembang, tertarik pada inisiatif ini. Selain itu, ada pula Inisiatif Peradaban Global (Global Civilization Initiative) yang melampaui perbedaan ukuran negara, baik kecil maupun besar, status ekonomi, maupun perbedaan ideologi," ujar Bali Ram Deepak, Profesor dari Pusat Studi Tiongkok di Universitas Jawaharlal Nehru.

Marcos Cordeiro Pires, Profesor Ekonomi Politik Internasional di Universitas Negeri Sao Paulo, Brasil, mengatakan bahwa penyatuan negara-negara Global South dalam kerangka BRICS menawarkan jalan keluar yang layak dari kondisi global yang hampir kacau.

"Ketika negara-negara Global South bersatu dalam platform penting seperti BRICS, hal itu membawa harapan bagi kita untuk keluar dari situasi internasional yang saat ini hampir kacau. Kerja sama BRICS membantu mendorong stabilitas internasional dan menjamin pembangunan, sehingga membawa kemakmuran dan kesetaraan sosial bagi banyak negara di seluruh dunia," kata Pires.

Menyoroti pertumbuhan pesat blok tersebut, Amr Mahmoud Moussa, mantan Sekretaris Jenderal Liga Arab, mendorong partisipasi yang lebih mendalam dari negara-negara Arab dalam kerja sama BRICS.

"Saya berharap lebih banyak negara Arab akan bergabung. Semakin banyak anggota, semakin baik, karena hal ini akan mendorong kerja sama regional maupun global. Kita masih berada di tahap awal dalam membentuk tatanan dunia baru," ujar Moussa.

Para analis internasional juga mengapresiasi pendekatan diplomatik Tiongkok dalam membina kemitraan berkelanjutan yang bebas dari intervensi politik.

"Sejarah ekonomi Tiongkok sangat berbeda dengan sejarah ekonomi Barat. Tiongkok tidak pernah melakukan kolonialisme di luar negeri sepanjang ribuan tahun sejarahnya, dan Tiongkok telah menyatakan bahwa mereka tidak berniat untuk melakukannya. Jika kita melihat kehadiran Tiongkok di Afrika, pola keterlibatannya tidak bersifat mendikte terkait jenis pemerintahan yang menjadi mitranya, ataupun mendikte kebijakan ekonomi internal negara-negara Afrika tersebut," ujar Bradley Bordiss, Pendiri Friends of BRICS+ Society sekaligus Peneliti asal Afrika Selatan yang mendalami isu-isu BRICS.

Tiongkok akan memegang presidensi BRICS tahun depan dan menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-19. Para ahli memperkirakan mekanisme kerja sama BRICS akan bergerak menuju pembangunan yang lebih berkualitas di bawah arahan dan dorongan Tiongkok, yang selanjutnya akan meningkatkan kepercayaan serta momentum bagi pembangunan bersama negara-negara Global South.

"Tiongkok tak diragukan lagi merupakan salah satu kekuatan pendorong utama BRICS. Data menunjukkan bahwa setiap kali Tiongkok memegang presidensi bergilir, banyak keputusan diambil dan dilaksanakan secara efektif dengan standar tinggi," kata Alexander Ignatov, Peneliti Senior di Russian Presidential Academy of National Economy and Public Administration.

Hani Abuagla, Kepala Analisis Pasar di perusahaan fintech XTB, mengatakan bahwa masa presidensi Tiongkok mendatang akan sangat krusial, seiring pergeseran fokus BRICS dari sekadar ekspansi ke arah penciptaan dampak kolektif. Ia juga menyebutkan bahwa blok ini berpotensi memberikan dampak besar bagi dunia.

"Situasi global saat ini sangatlah penting, karena kita tahu bahwa BRICS akan beralih dari sekadar upaya menjaring anggota baru menuju fokus pada efektivitas kolektif dan dampak yang dapat mereka ciptakan di dunia. Menurut saya, masa kepemimpinan Tiongkok berikutnya akan sangat, sangat penting. Saat ini, negara-negara BRICS bukan hanya produsen minyak, tetapi juga konsumen minyak dan komoditas lainnya. Jadi, mereka sendiri merupakan kelompok yang besar. Secara kolektif, mereka dapat memberikan dampak besar bagi dunia," jelas Abuagla.

Ekonom Zambia, Austin Mwange, mengatakan bahwa kerangka kerja Xi untuk kerja sama "BRICS yang lebih luas" yang berkualitas tinggi menciptakan ruang yang benar-benar inklusif bagi perdagangan, investasi, dan inovasi, serta memastikan negara-negara berkembang terintegrasi sepenuhnya dalam kemakmuran bersama.

"Saat mencermati BRICS, kita melihatnya sebagai wadah dialog multilateral atau dialog sejati tempat Presiden Xi Jinping mengusung dan menyebarluaskan konsep pengembangan berkualitas tinggi bagi kerja sama BRICS yang lebih luas. Kita berfokus pada kualitas, peningkatan taraf hidup masyarakat, ketentuan perdagangan yang baik, serta memastikan bahwa negara-negara yang sebelumnya tertinggal dapat lebih dilibatkan dalam pembangunan," ujar Mwange.