Beijing, Bharata Online - Ajang World Humanoid Robot Games (Olimpiade Robot Humanoid Dunia) ke-2 yang sedang berlangsung di Beijing tidak hanya menampilkan pencapaian atletis robotik yang memukau, tetapi juga keterampilan praktis yang berpotensi membuat robot humanoid diadopsi secara luas di rumah dan tempat kerja di dunia nyata.
World Humanoid Robot Games ke-2 secara resmi dibuka pada hari Sabtu (22/8) lalu di National Speed Skating Oval, atau yang dikenal sebagai "Ice Ribbon", di Beijing.
Selama lima hari, sebanyak 2.056 robot dari 666 tim yang mewakili 16 negara dan wilayah akan berkompetisi dalam 51 tantangan, yang mencakup 30 nomor pertandingan kompetitif dan 21 kontes berbasis skenario di sembilan bidang, guna mendorong batas kemampuan AI yang terwujud dalam fisik robot (embodied AI) serta kapabilitas robotik itu sendiri.
Nomor pertandingan kompetitif tersebut meliputi atletik, sepak bola, senam, angkat besi, tenis meja, wushu (seni bela diri), tari jalanan (street dance), kickboxing, dan banyak lagi.
Dalam ajang ini, Beijing Innovation Center of Humanoid Robotics (X-Humanoid) menurunkan beberapa tim dan berhasil meraih gelar juara di sejumlah cabang lomba.
Meng Xiang, seorang spesialis algoritma kontrol gerak di pusat inovasi tersebut, menjelaskan logika teknologi di balik kemenangan mereka.
"Kami mengandalkan sistem penentuan posisi, navigasi, dan perencanaan rute secara real-time untuk mencapai kemampuan berlari berkecepatan tinggi yang sepenuhnya otonom, sekaligus memaksimalkan kecepatan serta batas kemampuan perangkat keras kami," ujarnya.
Selain kemampuan mobilitas yang tangguh, ajang ini juga menguji serangkaian kemampuan motorik halus dan keterampilan manipulasi tangan yang cekatan pada robot-robot peserta. Hanya melalui sinergi kedua kemampuan inilah robot-robot tersebut dapat benar-benar masuk ke tahap produksi dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sejumlah cabang lomba tahun ini dirancang khusus untuk menguji keterampilan tangan yang cekatan, termasuk perakitan perkakas listrik, penimbangan bubuk, penyusunan balok mainan, memaku, membuka botol dan tutupnya, membongkar kemasan kotak, memindahkan biji-bijian menggunakan pinset, serta penyambungan kabel.
Yan Jiale, seorang peserta asal Tiongkok yang mewakili startup AI DeepCybo yang berbasis di Beijing, mendemonstrasikan pendekatan teknologi interaksi manusia-mesin untuk tugas-tugas seperti memindahkan biji-bijian menggunakan pinset.
"Dengan menggunakan peralatan yang dikenakan di tubuh saya, saya dapat menangkap gerakan saya dan mengirimkan sinyal yang sesuai ke robot. Saya yakin tangan robot tersebut sangat kuat. Saya tidak melatih setiap tugas secara terpisah. Jika saya sendiri bisa mengambil kacang menggunakan pinset, maka robot pun bisa melakukannya. Saya cukup melakukan tugas tersebut, dan robot menirunya. Robot itu mencapai tingkat presisi sekitar 80 hingga 90 persen dari kemampuan saya," jelasnya.
Ajang kompetisi ini tidak hanya menjadi wadah pameran teknologi, tetapi juga sarana pertukaran internasional. Guilherme Escudeiro dari Centro Universitario FEI di Brasil mengungkapkan perasaan yang juga dirasakan oleh banyak peserta asing lainnya.
"Datang ke Tiongkok sangatlah mengasyikkan. Kami semua sangat antusias saat mendengar kabar bahwa kami diundang ke sini. Ini adalah kesempatan luar biasa untuk mewakili negara kami dan menunjukkan kemampuan kami di sini. Kami adalah tim istimewa dari Brasil: lima universitas berbeda bergabung dalam satu tim untuk mewakili Brasil. Jadi, ini adalah kesempatan yang sangat bagus," ujarnya.
Peserta lain yang menempuh perjalanan jauh untuk berkompetisi adalah Valerio Spagnoli, seorang mahasiswa pascasarjana dari Sapienza University of Rome. Ia mengaku sangat terkesan dengan skala kompetisi tahun ini serta suasana di lokasi acara.
"Menurut saya ini luar biasa karena acaranya benar-benar hebat! Kami sangat senang dan saya bangga bisa berada di sini. Awalnya mungkin agak membingungkan, tetapi kemudian robot-robot itu berhasil menemukan jalannya dan kami menang, jadi kami senang. Untuk mempersiapkan satu pertandingan, kami membutuhkan waktu kurang lebih satu jam, namun kami telah menguji, memodifikasi, dan menyempurnakan kodenya selama lima tahun terakhir. Jadi, ini adalah perjalanan yang sangat panjang," ungkapnya.
Antusiasme para peserta internasional tidak hanya didorong oleh semangat kompetisi, tetapi juga oleh ketertarikan terhadap pesatnya perkembangan industri robotika Tiongkok. Menurut data resmi, pada paruh pertama tahun 2026, Tiongkok mengirimkan lebih dari 40.000 robot humanoid, yang mencakup 97 persen pangsa pasar global.
Dr. Timothy Wiley, seorang dosen senior di RMIT University di Melbourne, Australia, menyampaikan pandangannya dari perspektif perkembangan industri.
"Industri robotika di Australia berkembang cukup pesat. Kami memiliki investasi senilai sekitar 15 miliar dolar AS (sekitar 266 triliun rupiah) di berbagai bidang teknologi, dan Australia juga memiliki rencana nasional terkait AI. Namun, tentu saja, industri di Tiongkok sudah cukup matang, jadi menarik untuk melihat pertumbuhannya yang sangat cepat serta perkembangan apa yang akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan," ujarnya.