Shanghai, Bharata Online - Sebuah sekolah kejuruan khusus di Shanghai sedang melatih generasi penerus calon pembuat roti dan pastry chef yang ingin mengikuti jejak para peserta kompetisi 'WorldSkills' paling sukses dari Tiongkok, sementara para peserta kini mematangkan persiapan untuk ajang yang akan segera digelar tahun ini.

Dijuluki sebagai "Olimpiade Keterampilan Vokasi", Kompetisi WorldSkills edisi ke-48 dijadwalkan berlangsung di Shanghai pada 22-27 September 2026, dengan perkiraan kehadiran lebih dari 1.500 peserta dari sekitar 73 negara dan wilayah.

Tim Tiongkok berupaya mengulangi prestasi mereka pada kompetisi WorldSkills sebelumnya di Lyon, Prancis, tahun 2024, saat mereka menyapu bersih kemenangan di dua cabang lomba yang sangat kental dengan tradisi pastry Eropa.

Keberhasilan itu sebagian besar berkat pelatihan di Shanghai Trade School, yang telah melatih peserta kompetisi bidang roti selama lima siklus WorldSkills berturut-turut. Sejak kompetisi terakhir, sekolah ini menjadi salah satu pusat pelatihan utama di Shanghai untuk bidang pembuatan roti, pastry dan kembang gula, serta seni kuliner.

Para peserta yang sebelumnya dipersiapkan untuk ajang Shanghai 2026 kini telah beralih ke pelatihan penuh waktu bersama tim nasional Tiongkok. Namun, para pengajar di sekolah tersebut kini sudah mulai membimbing generasi siswa baru yang berharap dapat berkompetisi di masa depan.

Gan Wenhua, seorang ahli pastry untuk tim WorldSkills Tiongkok, meyakini bahwa presisi dan fleksibilitas adalah kunci utama untuk menampilkan performa yang memukau.

"Pertama, mereka harus terus mengasah keterampilan dan menyempurnakan hasil karya mereka. Kedua, mereka harus mampu beradaptasi. Mereka perlu menyesuaikan diri dengan cepat terhadap lingkungan kompetisi agar dapat tampil maksimal," ujar Gan.

Untuk memenuhi persyaratan ketat kompetisi WorldSkills, kemampuan memasak hidangan yang lezat hanyalah langkah awal. Peserta harus menyajikannya dalam batasan waktu yang ketat, menggunakan bahan, peralatan, dan ruang kerja yang mungkin asing bagi mereka, sembari tetap memenuhi standar internasional terkait rasa, tekstur, suhu, dan penyajian.

Bagi mereka yang berharap meraih kesuksesan suatu hari nanti, satu-satunya cara untuk mengasah keterampilan adalah dengan terus berlatih dan mengulang-ulang prosesnya. Pengulangan yang tiada henti mungkin melelahkan bagi kebanyakan orang, namun bagi para siswa ini, setiap sesi latihan membawa mereka selangkah lebih dekat untuk mewujudkan impian WorldSkills mereka.

"Latihan ini sungguh bermanfaat. Rasanya luar biasa saat melihat diri sendiri semakin mahir. Saya tidak pernah merasa bosan karena, pada akhirnya, kita melakukannya untuk diri sendiri," ujar seorang peserta.

"Setiap hari saya menemukan hal yang bisa saya perbaiki. Melihat kemajuan diri sendiri, sedikit demi sedikit, sungguh memuaskan," kata peserta lainnya.

Hitung mundur menuju ajang WorldSkills terus berjalan. Meskipun banyak pihak beranggapan tim Tiongkok memiliki keuntungan sebagai tuan rumah, para ahli menilai persaingan akan berlangsung sengit di antara para koki berbakat dari seluruh dunia yang akan berkumpul di Shanghai bulan depan.

"Kami sudah familier dengan lingkungan, peralatan, bahan-bahan, bahkan suhu di dalam ruang kompetisi. Namun, keuntungan-keuntungan itu ada batasnya. Seni memasak, khususnya masakan Barat, memiliki akar yang kuat di Eropa. Selain itu, di tingkat WorldSkills, semua peserta adalah yang terbaik dari yang terbaik. Perbedaan kemampuan antarpeserta sangatlah tipis. Itulah sebabnya kami terus berlatih dan memacu diri," ujar He Xiaocong, Manajer Lokasi untuk Kategori Memasak pada Kompetisi WorldSkills ke-48.