Navbar Dropdown

Dokumenter sebagai Peringatan: Kejahatan Tak Pernah Hilang, Hanya Berganti Wujud

Oleh

Sumber Video (CGTN)

Festival Film Nanyang (NFF) pertama diselenggarakan di FLIX PIK Avenue, Jakarta dari tanggal 9–11 Oktober. Festival film ini secara khusus menayangkan sebuah film dokumenter produksi bersama Tiongkok dan Korea Selatan berjudul "5", yang menyoroti lima penyintas terakhir dari sistem "perempuan penghibur" (Jugun Ianfu") di Korea Selatan.

Setelah menonton, Sosiolog dan Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia Dr. Ju-Lan Thung dalam wancaranya mengatakan, semakin lama waktu berlalu, semakin sulit menemukan para penyintas. Karena itu, film dokumenter harus bergerak cepat, berbicara dengan mereka selagi para penyintas masih ada. Membuat orang melihat kekejaman itu dan mengingatnya tetap penting, tetapi generasi muda saat ini menghadapi bentuk kekejaman yang lain. Karena sejarah akan terulang, tujuannya tidak boleh hanya membuat generasi muda mengingat, tetapi membuat mereka tetap waspada. Kita belajar dari sejarah bukan untuk membangkitkan emosi, diiringi suara biola sedih demi mendapatkan simpati, melainkan untuk menemukan hal-hal yang lebih penting bagi mereka hari ini. Jadi, film dokumenter ini lebih seperti sebuah peringatan: kejahatan tidak pernah hilang, hanya berganti wujud. Dahulu, perempuan sebagian besar menjadi korban perang; kini, mereka menjadi sasaran kepentingan ekonomi, diperdaya dengan berbagai cara seperti cinta, lalu dijual ke perdagangan manusia dan perdagangan organ. Ketamakan dan hasrat akan kekuasaan dalam diri manusia selalu ada. Karena itu, generasi muda perlu diingatkan, baik laki-laki maupun perempuan, untuk selalu berhati-hati. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti, tetapi kita harus belajar memahami manusia dan belajar bagaimana mempercayai mereka. Kita tidak mengalaminya sendiri, sehingga empati kita terhadap masa lalu kadang tidak sedalam yang kita bayangkan—seperti menonton film, hanya menangis satu dua menit. Karena itu, menurut saya, kisah ini harus dijadikan bahan diskusi, bukan hanya membahas apa yang dialami perempuan pada masa pendudukan Jepang, karena kekerasan seksual terhadap perempuan masih terjadi hingga hari ini. Saya juga menyarankan agar digunakan format lokakarya kelompok kecil, yang jumlahnya sedikit, lalu berkembang seperti bola salju yang semakin membesar, agar semua orang sama-sama memikirkan masa depan mereka sendiri, kehidupan hari ini, dan masa lalu.

Komentar