Minggu, 18 Oktober 2026 10:20 WIB
Pertukaran Budaya Dua Arah: Mengingat Sejarah, Menolak Kebencian
OlehSumber Video (CGTN)
Festival Film Nanyang (NFF) pertama diselenggarakan di FLIX PIK Avenue, Jakarta dari tanggal 9–11 Oktober. Festival film ini secara khusus menayangkan sebuah film dokumenter produksi bersama Tiongkok dan Korea Selatan berjudul "5", yang menyoroti lima penyintas terakhir dari sistem "perempuan penghibur" (Jugun Ianfu") di Korea Selatan.
Setelah menonton, mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing, Yudil Chatim dalam wancaranya mengatakan, Pertukaran budaya seharusnya bersifat dua arah. Bukan hanya Tiongkok mendirikan Institut Konfusius di Indonesia, kami juga secara bertahap mendirikan Rumah Budaya Indonesia di universitas-universitas di Tiongkok, agar kita dapat saling mengenal lebih baik, dan kami juga berharap generasi muda dapat berpartisipasi aktif.
Film ini berbicara tentang perang, tetapi kita tidak boleh terus-menerus memupuk dan membangkitkan kebencian. Saya melihat Tiongkok menjadikan sejarah kelam itu sebagai pendorong, menggunakan teknologi dan inovasi, bukan kekerasan, untuk melampaui lawan. Dengan menyimpan kebencian, yang lelah adalah diri sendiri. Indonesia juga memiliki sejarah gemilang dan sisi gelap, dan sama-sama dapat menjadikan sejarah sebagai kekuatan yang mendorong inovasi.
Terhadap masa-masa kelam itu, kita harus memahami, mempelajari, dan mengingatnya, mencari tahu di mana letak masalahnya, tetapi jangan mengulangi kesalahan yang sama. Saya juga menyarankan agar film-film semacam ini dibuat menjadi drama pendek dan diunggah ke Instagram dan TikTok, dilengkapi dengan lomba menulis, forum daring, dan kegiatan seperti 'Pahlawan di Sekitar Kita', agar lebih banyak generasi muda dapat terlibat.