Minggu, 18 Oktober 2026 10:18 WIB
Film sebagai Jembatan Empati: Sejarah dengan Skala Manusia
OlehSumber Video (CGTN)
Festival Film Nanyang (NFF) pertama diselenggarakan di FLIX PIK Avenue, Jakarta dari tanggal 9–11 Oktober. Festival film ini secara khusus menayangkan sebuah film dokumenter produksi bersama Tiongkok dan Korea Selatan berjudul "5", yang menyoroti lima penyintas terakhir dari sistem "perempuan penghibur" (Jugun Ianfu") di Korea Selatan.
Setelah menonton, Penulis skenario sekaligus sutradara film Indonesia Renaldo Samsara mengatakan, Saya menyukai sutradara seperti Hitchcock dan Nolan karena mereka mampu membuat penonton merasakan pengalaman nyata para tokoh. Film dapat membuat sejarah yang jauh menjadi relevan bagi kita melalui emosi-emosi yang kita kenal—ketakutan, cinta, kehilangan, dan harapan—sehingga kita mulai memahami apa arti suatu peristiwa bagi mereka yang mengalaminya.
Yang paling tak terlupakan bagi saya adalah bahwa para penyintas ini jauh lebih dari sekadar peristiwa yang menimpa mereka. Penderitaan mereka memang penting, tetapi identitas dan kehidupan mereka juga sama pentingnya. Mereka terus menjalani hidup, dan inilah yang paling ingin saya ingat sebagai penonton.
Film ini menyoroti kehidupan nyata lima orang, memberikan skala manusia pada sejarah yang besar. Kesaksian pribadi membuat kita lebih fokus mendengarkan, mengajukan lebih banyak pertanyaan, dan mengingatkan kita mengapa kita harus melestarikan suara-suara ini untuk generasi mendatang. Saya berpendapat bahwa rekonsiliasi dimulai dengan pengakuan yang jujur atas penderitaan. Kita dapat mengakui tanggung jawab sejarah, tetapi kita tidak boleh menyalahkan orang-orang hari ini hanya berdasarkan kewarganegaraan mereka.
Film seperti ini dapat menciptakan ruang untuk mendengarkan dan berdialog, sekaligus menghormati satu hal: apakah akan memaafkan atau tidak adalah pilihan pribadi para penyintas. Narasi yang menyentuh harus dibangun di atas penelitian yang cermat, membedakan antara memori pribadi dan fakta yang terverifikasi, memberikan konteks, dan bersikap jujur terhadap hal-hal yang belum pasti. Menghormati para penyintas juga berarti tidak pernah sengaja memperbesar penderitaan mereka demi membuat suatu adegan lebih dramatis.
Saya berharap penonton muda lebih memperhatikan bagaimana orang diperlakukan hari ini, yang berarti mempertanyakan prasangka, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan berani bersuara ketika orang lain diperlakukan secara tidak manusiawi. Mengingat sejarah baru bermakna ketika sejarah itu memengaruhi pilihan kita sehari-hari.