Beijing, Bharata Online - Saat melakukan tur keliling Tiongkok, Whiffenpoofs, grup a cappella dari Universitas Yale, menjalin hubungan dengan penduduk setempat melalui lagu serta memperoleh wawasan lebih mendalam mengenai negara tersebut dan masyarakatnya.
Setelah menghabiskan sebagian besar tahun 2026 dengan tampil di berbagai belahan dunia, Whiffenpoofs juga mengunjungi sejumlah destinasi di Tiongkok. Perjalanan ini terlaksana berkat bantuan Asisten Direktur Musik Zhang Yixiao, yang berasal dari Beijing.
"Saya memiliki impian untuk merancang tur Whiffenpoofs agar para anggota tidak hanya melihat Tiongkok yang ditampilkan di media sosial—seperti lampu-lampu neon dan gedung-gedung tinggi—tetapi benar-benar menyaksikan beragam aspek yang menunjukkan betapa majemuknya Tiongkok," ujar Zhang.
Tur selama 15 hari melintasi Tiongkok yang berlangsung pada bulan Maret lalu itu mencakup kunjungan ke sembilan kota, termasuk Zhangjiajie, Guizhou, Tianjin, Beijing, dan Xi'an. Selama periode tersebut, mereka mempelajari budaya setempat serta berinteraksi dengan penduduk lokal, baik melalui musik maupun hubungan yang menyentuh hati.
Pertunjukan yang dibawakan oleh kelompok etnis Zhuang di Provinsi Guizhou, Tiongkok Barat Daya, meninggalkan kesan mendalam bagi Eunice Oh, salah satu anggota grup tersebut.
"Mereka adalah pelopor teknik harmoni vokal rapat (close-part harmony) yang kami gunakan. Mendengarkan mereka—paduan suara yang terdiri dari ratusan orang bernyanyi dengan sangat padu—sungguh luar biasa. Tidak ada dirigen, tidak ada musik latar. Hanya suara mereka, serta kekuatan dan dampaknya yang terasa nyata. Sungguh mengharukan menyaksikan penampilan mereka," kata Oh.
Kebanyakan anak muda saat ini berkomunikasi secara daring. Namun, para anggota Whiffenpoofs bersedia mengambil jeda kuliah (gap year) untuk berkeliling dunia demi menjalin pertukaran musik dan mendapatkan pengalaman secara langsung.
Bagi mereka, pengalaman semacam itu sangatlah berharga, karena selain musik itu sendiri, orang-orang yang mereka temui di sepanjang perjalanan dan beragam budaya yang mereka kenal turut menjadi bagian bermakna dari perjalanan mereka.
"Kami menyadari bahwa dampaknya tidak sama jika dibandingkan dengan berdiri langsung di hadapan penonton di Beijing, Chongqing, atau tempat-tempat lainnya, serta melihat mereka mendengarkan musik a cappella untuk pertama kalinya. Menurut saya, tidak ada yang bisa menandingi pengalaman itu melalui media daring," ujar Lucas Oland, Anggota Whiffenpoofs.