Kairo, Bharata Online - Film antiperang asal Tiongkok, "Once Upon a Time in the Middle East", telah membuka cakrawala baru bagi kerja sama sinematik dan budaya antara Tiongkok dan Mesir, demikian disampaikan oleh para sineas Mesir yang terlibat dalam produksinya saat diwawancarai oleh China Global Television Network (CGTN).
Film ini mengisahkan perjalanan seorang koki Tiongkok yang pergi ke Timur Tengah pada tahun 2000-an untuk mencari nafkah, namun justru mendapati dirinya berada di tengah pecahnya perang. Restoran kecil miliknya kemudian menjadi tempat perlindungan bagi warga sipil dan anak-anak.
Dengan menampilkan budaya, kuliner, dan sisi kemanusiaan yang melampaui stereotip, film ini menempatkan perang sebagai latar belakang bagi kisah manusia tentang ketangguhan dan perdamaian. Keterlibatan pihak Mesir berperan sebagai jembatan budaya, yang memberikan gambaran dunia Arab kepada penonton Tiongkok melalui seni dan drama.
Sejak dirilis pada 11 Agustus 2026, film ini telah meraup pendapatan lebih dari 1,5 miliar yuan (sekitar 3,95 triliun rupiah) hingga hari Minggu (23/8). Film ini meraih skor 9,9 di platform Taopiaopiao selama penayangan pratinjau, menjadikannya film dengan peringkat tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Berkat kesuksesan besar di box office, sejumlah seniman Mesir kini dikenal luas oleh penonton Tiongkok, sebuah pengalaman yang membuka peluang baru bagi kolaborasi dan pertukaran budaya.
"Hal yang membedakan sinema Tiongkok adalah presisinya. Saya sangat senang, ini adalah pengalaman yang benar-benar baru dan belum pernah saya alami sebelumnya, terutama karena gaya kerja mereka sangat berbeda dengan kami. Oleh karena itu, saya mendapatkan banyak manfaat dan pengalaman berharga, menikmati prosesnya, serta melihat visi yang berbeda dari apa yang biasa saya temui di Mesir. Saya juga berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai kebangsaan dan latar belakang, yang tentu saja sangat bermanfaat bagi saya. Saya berharap akan ada lebih banyak karya yang mengusung gagasan serupa di masa mendatang," ujar Amira Abdel Zaher, pengarah casting asal Mesir untuk film tersebut.
Para pelaku seni asal Mesir mengungkapkan bahwa keterlibatan mereka dalam pembuatan film Tiongkok menghadirkan tantangan terkait bahasa, budaya, dan metode kerja, namun perbedaan-perbedaan tersebut dengan cepat berubah menjadi peluang untuk saling berbagi keahlian.
"Sebenarnya, mereka mengadakan banyak sekali audisi yang diikuti oleh begitu banyak gadis, dan proses audisi untuk peran ini terus berlangsung selama sekitar tiga minggu—hingga akhirnya saya datang dan mengikuti audisi tersebut. Saya dinilai memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh sutradara, karena beliau mencari penampilan dan karakteristik fisik tertentu. Saya sangat, sangat senang beliau memilih saya. Saya berharap dapat terlibat dalam film-film Tiongkok mendatang, karena kami memiliki kepedulian terhadap isu-isu yang sama, seperti masalah kemanusiaan," ujar aktris Nira Akram.
"Itu adalah pengalaman pertama saya bepergian ke Tiongkok, dan saya sangat senang bisa terlibat dalam sebuah film Tiongkok. Kerja sama di sana sungguh luar biasa. Saya merasa takjub bisa bepergian ke luar negeri demi peran akting, dan saya sangat menyukai tempat itu," kata aktris cilik Mirola Hatem.