Ordos, Bharata Online - Ronald Sakolsky, seorang pensiunan guru asal Amerika, mengungkapkan perasaannya saat bisa menikmati reuni "impian" bersama Yin Yuzhen, tokoh perintis pengendalian gurun di Tiongkok, setelah keduanya bertemu kembali untuk mengenang upaya mereka dalam mengatasi desertifikasi, tepat 27 tahun setelah pertemuan pertama mereka.

Kisah luar biasa ini bermula pada tahun 1999, ketika Sakolsky mengajar bahasa Inggris di sebuah sekolah di Provinsi Henan, Tiongkok Tengah, dalam rangka program pertukaran guru antara AS dan Tiongkok.

Setelah menyaksikan tayangan berita televisi yang meliput kerja keras Yin yang tak kenal lelah, ia merasa sangat tersentuh dan menggalang dana sebesar 5.000 dolar AS (sekitar 88,56 juta rupiah) untuk membantu Yin serta suaminya dalam upaya penghijauan guna memerangi desertifikasi di Daerah Otonom Mongolia Dalam, Tiongkok Utara.

Beberapa bulan kemudian, atas undangan pejabat setempat, Sakolsky pergi ke kawasan gurun tersebut untuk bertemu langsung dengan Yin. Sebagai tanda kenang-kenangan atas kebaikan hati Sakolsky, Yin menyimpan satu dolar (sekitar 17.714 rupiah), sementara sisa dananya ia gunakan untuk membeli 50.000 bibit tanaman.

Setelah kunjungan singkat di tengah luasnya Gurun Mu Us itu, keduanya kehilangan kontak dan persahabatan lintas benua mereka pun perlahan memudar seiring berjalannya waktu.

Namun, sebuah kejutan luar biasa terjadi awal tahun ini ketika sebuah kampanye publik di media sosial Tiongkok berhasil melacak keberadaan Sakolsky, yang kini berusia 69 tahun, di Amerika Serikat.

Terjalinnya kembali komunikasi tersebut memicu desakan dari publik agar keduanya bisa melakukan reuni yang sudah lama tertunda, hingga akhirnya Sakolsky tiba di Kota Ordos pada hari Minggu (23/8) untuk bertemu langsung dengan Yin sekali lagi.

Dalam sebuah wawancara yang mengharukan dengan China Global Television Network (CGTN), Sakolsky tak dapat menyembunyikan kegembiraannya karena pertemuan impian ini akhirnya menjadi kenyataan. Ia mengungkapkan bahwa pertemuan yang tak terduga ini terasa sangat berbeda dari apa yang selama ini ia bayangkan.

"Rasanya jelas berbeda, karena saya bisa menyentuhnya. Dalam bayangan saya, hal itu hanya ada di pikiran saja. Namun, kini saya bisa menyentuhnya, memeluknya, serta melihatnya menangis dan turut menangis bersamanya. Saya menyebutnya sebuah keajaiban karena tak seorang pun pernah mengatakan bahwa saya akan datang ke Tiongkok pada tahun 1999. Tentu saja, tak ada yang pernah mengatakan bahwa saya akan kembali ke Tiongkok pada tahun 2026. Namun, ketika Anda bisa menyentuh impian Anda, impian itu menjadi kenyataan. Itu bukan sekadar mimpi lagi. Jadi, dua hari terakhir ini benar-benar menjadi kenyataan bagi saya," ujar Sakolsky.

Duduk di sampingnya, Yin menyoroti pentingnya untuk selalu menepati janji, tidak peduli berapa lama waktu telah berlalu.

"Saya percaya bahwa pertama-tama, Anda harus menjadi orang yang baik, barulah Anda bisa melakukan berbagai hal dengan baik," ujarnya.

Jejak waktu sejak pertemuan pertama mereka terlihat begitu menyentuh pada lahan yang digarap oleh Yin. Hamparan hijau kecil yang ia mulai lebih dari seperempat abad yang lalu kini telah berkembang menjadi lebih dari 8 juta pohon, menutupi lahan seluas lebih dari 11.000 ekar yang dulunya gersang.