Beijing, Bharata Online - Industri baja Tiongkok telah mencapai terobosan signifikan dalam bidang material presisi kelas atas sejak awal tahun ini, dengan sejumlah baja khusus yang canggih mendukung industri-industri mutakhir seperti elektronik, energi baru, dan peralatan berteknologi tinggi.

Pada era komunikasi seluler 4G, ketebalan yang dibutuhkan untuk foil baja karbon rendah ultra-tipis adalah 0,12 mm guna memungkinkan transmisi sinyal yang cepat dan lancar.

Persyaratan ketat tersebut kini diperketat lagi menjadi hanya 0,10 mm di era baru 5G saat ini, yang menuntut teknik produksi yang jauh lebih rumit bagi para produsennya.

Selama ini, metode pengerolan sangat bergantung pada perusahaan asing. Namun, pada tahun 2013, Shougang Group menjalin kerja sama dengan University of Science and Technology Beijing (USTB) untuk melakukan penelitian dan pengembangan ilmiah terkait proses pengerolan kontinu untuk "baja 5G", sebutan bagi foil baja karbon rendah ultra-tipis tersebut.

"Baja 5G" yang dikembangkan secara mandiri oleh Tiongkok, dengan ketebalan hanya 0,07 mm, telah memasuki tahap produksi massal dan digunakan secara luas untuk komponen penerima sinyal stasiun pangkalan (base station) 5G, filter transmisi sinyal, papan sirkuit terintegrasi, serta komponen penghubung baterai kendaraan energi baru.

"Meskipun tipis, material ini memiliki ketangguhan luar biasa dan tekstur menyerupai kertas; kita bisa menekuk maupun melipatnya berulang kali dengan mudah," ujar Hu Na, Insinyur di Shougang Jingtang Steel United Iron and Steel Co., Ltd. Ia kemudian melipat baja tersebut menjadi bentuk "pesawat kertas" klasik untuk menunjukkan fleksibilitasnya.

Tahun ini, Tiongkok terus memanfaatkan baja khusus untuk mendorong pengembangan kekuatan produktif berkualitas baru.

Sebagai contoh, di sektor industri, Tiongkok terus meningkatkan batas performa baja silikon—paduan besi-silikon yang terutama digunakan dalam aplikasi kelistrikan karena sifat magnetiknya yang unggul. Baja listrik non-orientasi dengan ketebalan 0,1 mm kini telah mencapai standar kelas dunia dalam hal indikator kehilangan daya (iron loss).

Material tersebut kini banyak digunakan pada motor penggerak kendaraan energi baru serta motor sendi untuk robot humanoid.

Berbagai terobosan ini muncul seiring dengan langkah industri baja Tiongkok yang terus beralih menuju produk bernilai tambah lebih tinggi. Bahkan, porsi konsumsi baja di sektor manufaktur diproyeksikan melampaui sektor konstruksi untuk pertama kalinya pada tahun 2025.