Shenzhen, Bharata Online - Konstruksi modular prefabrikasi—yang cara kerjanya mirip dengan balok Lego—sedang berkembang pesat di Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan, dan secara signifikan memangkas waktu konstruksi secara keseluruhan.

Melalui pendekatan ini, unit-unit bangunan modular diproduksi di lini perakitan, di mana dinding, pipa, kabel, dan perlengkapan interior semuanya diselesaikan di bengkel kerja. Unit-unit yang telah rampung ini kemudian diangkut ke lokasi konstruksi untuk dirakit.

Hanya dibutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk mengangkat satu modul dari tanah hingga ke posisi pemasangannya. Setelah ditempatkan, pekerja cukup mengencangkan sekrup dan menyambungkan kabel, maka lantai tersebut pun selesai dikerjakan.

"Sebelumnya, masa konstruksi mungkin memakan waktu dua atau tiga tahun, namun kini bisa diselesaikan hanya dalam beberapa bulan," ujar Chen Qinghai, seorang pekerja pengangkatan unit modular.

Mulai dari pengangkatan modul hingga penempatannya secara presisi, dibutuhkan waktu rata-rata dua hari untuk merakit satu lantai bangunan menggunakan modul prefabrikasi semacam itu.

Sebuah bangunan setinggi 16 lantai terdiri dari 298 modul. Dari pengangkatan pertama hingga bangunan siap serah terima, seluruh proses dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 120 hari, memangkas jadwal konstruksi sebesar 60 persen dibandingkan metode pembangunan tradisional.

"Kami bisa mengangkat belasan unit modular setiap harinya. Dibandingkan dengan lokasi konstruksi tradisional, lingkungan kerjanya lebih bersih, dampaknya terhadap area sekitar jauh lebih kecil, serta jadwal keseluruhannya singkat dan cepat," kata Chen.

Sejauh ini, luas bangunan prefabrikasi di Shenzhen telah melampaui 150 juta meter persegi, mencakup lebih dari 64 persen proyek yang baru dimulai pada tahun 2026.

Pesatnya perkembangan industri bangunan prefabrikasi di Tiongkok didukung kuat oleh pemerintah.

Berdasarkan pemberitahuan yang dikeluarkan oleh otoritas Tiongkok pada tahun 2025, pemerintah tingkat kota dan distrik diinstruksikan untuk mempromosikan metode konstruksi industrialisasi baru, seperti teknologi prefabrikasi dan teknologi cerdas, serta membangun mekanisme jangka panjang guna mendukung transformasi sektor konstruksi menuju praktik yang ramah lingkungan dan rendah karbon.

Ekspor bangunan prefabrikasi Tiongkok juga meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, naik dari 1,47 miliar dolar AS (sekitar 26 triliun rupiah) pada tahun 2015 menjadi sekitar 4,34 miliar dolar AS (sekitar 77 triliun rupiah) pada tahun 2025. Pada kuartal pertama tahun 2026, angka tersebut terus meningkat dengan pertumbuhan tahun ke tahun sebesar 45 persen, menurut Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok.