CAMBRIDGE, Bharata Online - Macfarlane, 84 tahun, seorang profesor emeritus ilmu antropologi di Universitas Cambridge, sekaligus anggota British Academy, telah menjadi sumber ketenangan yang tak terduga bagi jutaan anak muda Tiongkok.
Dalam kurun waktu sekitar satu tahun, akunnya telah menarik lebih dari 2,4 juta pengikut; video-videonya secara rutin meraih jutaan penayangan. Para pengikut menjulukinya "Kakek yang Menggemaskan" atau "Dumbledore versi Inggris." Ia juga dijuluki "Tree Hole" (Lubang Pohon)—sebuah tempat tenang tempat orang-orang mencurahkan kekhawatiran mereka mengenai pekerjaan, hubungan, dan masa depan.
"Bahkan tim pengelola platform mengatakan bahwa pertumbuhan akun Macfarlane sungguh luar biasa," ujar Qin Yuchen, yang mengelola akun-akun Macfarlane di Tiongkok, kepada Global Times.
Dalam wawancara dengan Global Times, Macfarlane mengatakan, babak kedua dalam hidupnya yang tak terduga ini, bermula di usia yang tidak lagi muda. Berusia 55 tahun ketika pertama kali berpikir, alangkah indahnya jika bisa pergi ke Tiongkok.
Jalan menuju hal itu bermula lebih awal, yakni di Nepal—tempat ia pertama kali melihat wajah-wajah orang Tiongkok—kemudian di Jepang, dan selanjutnya melalui interaksi dengan mahasiswa doktoral asal Tiongkok di Cambridge.
Selama 35 tahun pertama pengalaman mengajarnya, ia belum pernah mengajar mahasiswa yang berasal dari Tiongkok daratan.
Baru pada tahun 2002 atau 2003 ia menerima kelompok mahasiswa doktoral pertamanya yang berasal dari Tiongkok daratan, tuturnya.
Sejak saat itu, ia telah mengunjungi Tiongkok hampir setiap tahun.
Menurutnya, satu-satunya cara nyata untuk memahami peradaban lain adalah melalui persahabatan. Satu-satunya cara untuk benar-benar memahami secara mendalam dan cepat, adalah melalui persahabatan dan kejujuran.
Hal yang membuatnya terus kembali adalah keragaman Tiongkok serta penduduknya.
"Tiongkok sangat beragam. Ini adalah salah satu hal yang saya sukai darinya," ujarnya. "Wilayah-wilayah di Tiongkok memiliki ukuran setara dengan negara-negara Eropa; budaya, bahasa, dan segala aspeknya begitu berbeda sehingga orang tidak akan pernah merasa bosan."
Terlebih lagi, "teman-teman Tiongkok sangat hangat, penuh perhatian, dan setia. Persahabatan Mac dengan banyak teman Tiongkok sudah terjalin lebih dari 20 tahun. Ini menjadi persahabatan yang sejati.
Macfarlane menyadari adanya kualitas istimewa dalam hubungan-hubungan tersebut. Sebaliknya, dengan mahasiswa dari tempat lain, persahabatan biasanya hanya mencapai tingkat tertentu lalu berhenti.
Namun dengan anak muda Tiongkok, persahabatan itu terus berlanjut, semakin mendalam, dan menjadi sesuatu yang sangat mirip dengan hubungan kekeluargaan.
Macfarlane menjadi sosok kakek, paman, atau kakak laki-laki bagi mereka. Hal ini menumbuhkan kedalaman emosi dan kesetiaan."
Para pengikut mudanya dari Tiongkok sering menulis pesan, bahwa mereka merindukan dan ingin mengunjunginya—sesuatu yang menurut Macfarlane jarang dilakukan oleh mahasiswanya dari Inggris maupun tempat lain.
"Hubungan ini melibatkan ikatan emosional dan rasa saling percaya yang kuat. Mereka banyak terbuka mengenai diri mereka sendiri, sesuatu yang tidak akan dilakukan oleh orang Inggris atau Amerika yang cenderung lebih tertutup." ujarnya.
Pada Hari Pemuda Tiongkok, ia mengemukakan sebuah gambaran yang menarik untuk menggambarkan tekanan yang dirasakan banyak anak muda, termasuk fenomena yang dikenal sebagai "tang ping" atau "berbaring santai" (sikap pasrah dan tidak berambisi).
"Tiongkok sering kali mengingatkan Mac pada salah satu ciri pertaniannya... yaitu bahwa Tiongkok adalah peradaban bambu. Saat embusan angin kencang menerpa bambu, bambu itu meredam hentakannya dan melengkung hingga hampir rata dengan tanah. Lalu, begitu embusan angin berlalu, ia kembali tegak. Tentu saja, ini merupakan ciri utama filsafat Tiongkok, khususnya dalam seni bela diri Tiongkok. Saat Anda diserang oleh kekuatan yang sangat dahsyat, Anda tidak bersikap kaku hingga akhirnya patah. Anda melengkung mengikuti arah tekanan, lalu bangkit kembali."
Ia memandang fenomena jeda yang kini diambil oleh sebagian anak muda Tiongkok dari sudut pandang yang sama.
"Mereka yang tampak seolah menyerah, atau tidak lagi memacu diri sebagaimana biasanya dilakukan orang Tiongkok, sebenarnya hanya sedang beristirahat—mengambil jeda sebelum kembali melangkah maju. Dan ini adalah sikap yang tepat."
Ia juga mencermati perbedaan budaya dalam hal pendidikan dan keluarga. Menurutnya, para pelajar Tiongkok menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia luar.
Menurut Mac, "Wawasan mereka tidak terbatas; saat datang ke Inggris, mereka ingin mempelajari seluk-beluk Inggris... dan mereka memiliki pengetahuan yang luas mengenainya." Sebaliknya, ia menilai banyak pelajar Barat cenderung "tertutup" atau kurang memiliki wawasan luas di luar lingkungan mereka sendiri.
Perbedaan lainnya terletak pada besarnya ekspektasi keluarga.
Bersama rekannya, Wang Zilan, ia mendirikan Cam Rivers Publishing sebagai jembatan budaya. Ia telah banyak memberikan kuliah kepada para mahasiswa Tiongkok, dan diangkat sebagai profesor kehormatan di Universitas Shenzhen.
Ia mengatakan bahwa hampir tiga perempat dari teman-teman terdekatnya kini adalah anak muda Tiongkok.
"Saya telah berinteraksi dengan ratusan ribu anak muda Tiongkok di RedNote selama setahun terakhir," ujarnya, "dan kini hampir semua sahabat adalah anak muda Tiongkok."
Menanggapi popularitas yang tak terduga itu, ia berkata, "Ini mungkin bukan karena saya sangat cerdas, melainkan karena saya melihat bahwa anak muda Tiongkok benar-benar tertarik untuk memahami dunia. Saya berbicara dengan mereka, sebagai sesama yang setara, dan mereka membalasnya dengan kesetaraan, keterbukaan, serta kepercayaan yang sama."
Komentar-komentar yang ia terima, senantiasa menunjukkan sikap hati-hati, penuh hormat... filosofis dan mendalam... serta sangat personal.
Ia juga memiliki sebuah nasihat singkat yang kerap ia sampaikan. Pesan itu adalah, "Saat Anda merasa tua, maka Anda pun menjadi tua; saat Anda merasa muda, maka Anda pun menjadi muda. Teruslah berpikir layaknya orang muda, maka Anda akan menjadi semakin kuat." ujarnya. (Sumber: Global Times)