Jakarta, Bharata Online - Dalam rangka memperingati 35 tahun Kemitraan Dialog Tiongkok-ASEAN dan 5 tahun Kemitraan Strategis Komprehensif Tiongkok-ASEAN, LSPR Institute of Communication and Business bersama Mission of the People's Republic of China to ASEAN dan China Public Diplomacy Association (CPDA) menyelenggarakan Cultural Open Day 2026 di Kampus LSPR, Jakarta Pusat, Selasa (23/6).

Acara ini dihadiri oleh Prita Kemal Gani, Founder dan CEO LSPR Institute of Communication and Business, Tong Xiaoling, Vice President China Public Diplomacy Association, Wang Qing, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk ASEAN, dan San Lwin, Deputy Secretary-General of ASEAN for ASEAN Socio-Cultural Community.    

Selain sambutan dari nama-nama tersebut, acara ini juga menampilkan seni pertunjukan dari Tiongkok, seperti Nanyin, yang merupakan seni pertunjukan tradisional yang elegan dan bertempo lambat, populer di kalangan masyarakat Minnan di Tiongkok dan luar negeri, serta Seni Wayang Fujian, seni rakyat Tiongkok yang khas, yang terbagi menjadi wayang tali dan wayang tangan.    

Dalam sambutannya, Wang Qing mengatakan bahwa selama lima tahun terakhir, Tiongkok-ASEAN telah bekerja bahu-membahu dalam membangun rumah yang damai, aman dan tenteram, makmur, indah dan bersahabat, serta memupuk komunitas Tiongkok-ASEAN yang lebih erat dengan masa depan bersama.

Menurutnya, hubungan Tiongkok-ASEAN telah mengalami lompatan besar dan menjadi contoh yang baik dari kerja sama regional yang paling sukses dan dinamis di Asia-Pasifik. Keduanya juga telah secara aktif mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan pembangunan bersama di kawasan tersebut, serta memberikan manfaat nyata bagi lebih dari 2 miliar orang.

"Tiongkok dan ASEAN terhubung oleh pegunungan dan sungai serta terikat oleh hubungan budaya dan antarmasyarakat yang erat. Tiongkok bukanlah pengungsi. Selama lebih dari 2.000 tahun, berkat Jalur Sutra Maritim yang di sepanjangnya terjalin persahabatan dan ikatan peradaban, Tiongkok dan negara-negara Asia Tenggara saling menginspirasi dan belajar satu sama lain, serta bersama-sama menciptakan dan menyebarkan peradaban Asia Timur," ujarnya.

Di sisi lain, Prita Kemal Gani mengatakan kerja sama Indonesia-Tiongkok dalam hal budaya sangat penting, terutama agar masyarakat kedua negara, khususnya anak muda, dapat saling memahami. Inilah salah satu alasan yang mendorongnya untuk menyelenggarakan Cultural Open Day.

"Ini adalah acara persahabatan, pertukaran multikultural antara Tiongkok, Indonesia, dan ASEAN. Kebetulan momennya tepat pas acara (peringatan) 35 tahun hubungan Tiongkok dan ASEAN. Nah, kebetulan Misi Tiongkok untuk ASEAN itu ada Diplomasi Publik Tiongkok, yang mana salah satu (bentuk) diplomasi adalah kebudayaan. Nah, mereka juga ingin ada anak muda Indonesia yang memahami budaya Tiongkok, (seperti) nyanyian indah, wayang, pemain cello. Banyak hal yang sebenarnya orang tidak harus ke Tiongkok dulu untuk lihat ini, tapi bisa lihat ini di LSPR. Karena kan tak kenal maka tak sayang," jelasnya.