Nanjing, Radio Bharata Online - Dalam sebuah dokumen yang dirilis pada hari Senin (8/1), Komisi Kesehatan Nasional (National Health Commission/NHC) Tiongkok mengumumkan pencapaian yang signifikan dalam lanskap donor darah di negara tersebut.
Sejak penerapan Undang-Undang Donor Darah pada tahun 1998, baik volume donor darah sukarela maupun jumlah pendonor telah mengalami peningkatan yang konsisten dan luar biasa. Hebatnya, NHC menyoroti bahwa semua darah klinis yang digunakan di Tiongkok bersumber secara eksklusif dari warga negara yang secara sukarela berkontribusi.
Dalam dokumen tersebut, Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok mengatakan bahwa Liga Pemuda Komunis Tiongkok dan Perhimpunan Palang Merah di semua tingkatan harus mengorganisir sukarelawan untuk mendorong orang menyumbangkan darah dan meningkatkan layanan bagi para pendonor. Selain itu, departemen kesehatan dan tempat donor darah di semua tingkatan harus menangani keluhan pendonor dengan cepat dan peka, menangani masalah mereka secara tepat waktu.
Komisi ini juga mengatakan bahwa departemen kesehatan di semua tingkatan dan departemen kesehatan militer harus mempercepat pembagian informasi manajemen darah dan mendigitalisasi layanan donor darah. Selain itu, mereka juga didesak untuk membuat sistem janji temu donor darah, menyederhanakan prosedur donor darah dan mempersingkat waktu tunggu, sebagai bagian dari upaya untuk memberikan kenyamanan bagi para pendonor.
Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok telah membuat kemajuan dalam keamanan darah dan kemampuan pasokan darah darurat.
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) tentang keamanan dan ketersediaan darah global pada tahun 2021, Tiongkok berada di peringkat teratas di dunia dalam hal jumlah donor darah sukarela, tingkat kualitas dan keamanan darah, dan tingkat penggunaan darah klinis yang wajar.