Bharata Online – Gelombang kekecewaan yang semakin besar terus menghantui Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, atas pernyataannya mengenai urusan dalam negeri Tiongkok.

Dalam sebuah laporan yang dirilis Sabtu, Nikkei Asia, surat kabar keuangan terkemuka Jepang, membunyikan peringatan, mencatat peningkatan tajam pembatalan penerbangan Tiongkok-Jepang, yang dijadwalkan pada bulan Desember.

Menurut laporan tersebut, 904 dari 5.548 penerbangan yang semula dijadwalkan dari Tiongkok ke Jepang pada bulan Desember telah dibatalkan hingga Kamis, atau setara dengan 16 persen dari total penerbangan.

Gelombang pembatalan penerbangan ini, menyusul peringatan perjalanan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah Tiongkok. Peringatan tersebut mengimbau warga negara Tiongkok untuk berhati-hati saat bepergian ke Jepang, mengingat meningkatnya ketegangan diplomatik yang dipicu oleh komentar provokatif Takaichi.

Sementara itu Adora Cruises, operator kapal pesiar besar Tiongkok, pada hari Jumat mengumumkan perubahan rute untuk kuartal pertama tahun 2026. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa dua kapal pesiarnya, yakni Adora Magic dan Adora Medditeranea, telah membatalkan sementara rute ke Jepang, dan akan berfokus pada destinasi-destinasi populer di Republik Korea dan Asia Tenggara.

Wisatawan Tiongkok, yang terkenal dengan daya beli mereka untuk berbelanja, bersantap, dan bertamasya, secara historis telah menyumbang porsi substansial dari pendapatan pariwisata Jepang, terutama selama musim puncak perjalanan, seperti liburan akhir tahun dan Festival Musim Semi. 

Menurut Kantor Berita Xinhua, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara ke Jepang pada tahun 2024 naik 6,8 persen year-on-year menjadi 227.242 yen (US$1.456,4), dengan wisatawan Tiongkok menyumbang sekitar 20 persen dari total pengeluaran.

Tren saat ini siap memberikan pukulan berat bagi bisnis di seluruh ekosistem pariwisata Jepang, mulai dari maskapai penerbangan dan hotel, hingga toko suvenir lokal dan tempat-tempat wisata. (CGTN)