Kunshan, Bharata Online - Industri energi hidrogen Tiongkok meningkatkan upaya untuk menurunkan biaya produksi dan penyimpanan seiring dengan teknologi baru yang dipamerkan pada konferensi industri besar yang menyoroti transisi sektor ini dari proyek percontohan ke aplikasi komersial skala besar.
Pada pameran Kongres Kendaraan Hidrogen dan Sel Bahan Bakar Internasional ke-10, perusahaan-perusahaan di seluruh rantai industri hidrogen memamerkan terobosan teknologi terbaru mereka.
Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok (2026-2030) mengidentifikasi energi hidrogen sebagai industri masa depan dan pendorong baru pertumbuhan ekonomi.
Pada bulan Maret 2026, tiga departemen pemerintah Tiongkok bersama-sama mengeluarkan pemberitahuan yang menetapkan target untuk sektor ini pada tahun 2030, termasuk armada nasional sebanyak 100.000 kendaraan sel bahan bakar dan pengurangan harga hidrogen bagi pengguna akhir hingga di bawah 25 yuan (sekitar 66 ribu rupiah) per kilogram.
Data industri menunjukkan bahwa hidrogen saat ini berharga lebih dari 35 yuan (sekitar 92 ribu rupiah) per kilogram untuk pengguna akhir. Para ahli industri mengatakan bahwa tingginya biaya hidrogen tetap menjadi tantangan utama, dengan biaya produksi sebagian besar didorong oleh harga listrik. Pemanfaatan sumber daya energi terbarukan yang melimpah dipandang sebagai solusi kunci.
"Saat ini kita memiliki sejumlah besar listrik terbarukan yang tidak dapat dimanfaatkan sepenuhnya di Tiongkok. Pertanyaannya adalah bagaimana mengubahnya menjadi sumber daya untuk produksi hidrogen. Karena biaya listrik berlebih dapat dianggap dapat diabaikan, hidrogen dapat diproduksi dengan biaya yang sangat rendah, berpotensi kurang dari 10 yuan (sekitar 26 ribu rupiah) per kilogram," ujar Ouyang Ruixiang, seorang peserta pameran di acara tersebut.
Mengurangi biaya produksi hanyalah sebagian dari persamaan. Meningkatkan kapasitas penyimpanan hidrogen juga sangat penting.
Di pameran tersebut, perusahaan-perusahaan memamerkan peralatan penyimpanan dan transportasi hidrogen bertekanan tinggi yang dikembangkan menggunakan teknologi manufaktur canggih seperti material komposit serat karbon, yang meningkatkan kepadatan penyimpanan hidrogen hingga 1,5 kali lipat.
Sektor hidrogen Tiongkok telah berkembang pesat selama dekade terakhir. Pada tahun 2016, negara ini hanya memiliki 29 kendaraan bertenaga hidrogen dan lima stasiun pengisian bahan bakar hidrogen.
Pada akhir tahun 2025, penjualan kumulatif kendaraan bertenaga hidrogen telah mencapai 39.000 unit, sementara jumlah stasiun pengisian hidrogen telah meningkat menjadi 590.
Aplikasi hidrogen juga telah meluas melampaui proyek demonstrasi hingga mencakup pelabuhan, kawasan industri, transportasi penumpang perkotaan, dan layanan logistik, menandai titik balik penting menuju penerapan teknologi hidrogen secara komersial dan skala besar.
"Dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 30 provinsi dan kota di seluruh Tiongkok telah merilis rencana pengembangan hidrogen khusus. Apakah kita dapat mencapai target pengurangan harga hidrogen hingga di bawah 25 yuan (sekitar 66 ribu rupiah) per kilogram pada tahun 2030 akan membutuhkan dan bergantung pada terobosan teknologi lebih lanjut," kata Zhao Lijin, Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Insinyur Otomotif Tiongkok.